Cerita Hati

www.keralaayurveda.biz

Perkenalkan, namaku Minda. Aku adalah juzk yang paling tersembunyi, terlindungi dari capaian tangan namun rentan terhadap sentuhan bahasa. Setiap ringkih tangis terdengar pada telinga, aku mencecapinya. Akan ada sayat-sayat luka mendalam, menganga padaku. Hingga terguncang semesta badan, mengawal fuwak-fuwak mendung dalam relungnya hingga mengguyurkan hujan di mata. Demikian pula, setiap gelak memuncak tawa, selalu aku yang lebih dahulu bersorak. Mendekap bahagia sesiapa pun adanya. Dari banyak hal yang kurasakan itu, perkenankan sejenak aku hendak bercerita.

Aku mengabarkan kepadamu di mana aku dan apa gunanya. Aku bersarang pada badan yang kau kenal dengan sebutan manusia. Kau tahu? manusia Tuhan beri nama insan. Kenapa demikian, kenapa tidak lainnya saja? Sebab kata insan mewakili sifat paling dominan padanya. Insan dari kata naasiyan yang bermakna lupa. Ya, manusia pelupa. Lalu apa yang ia lupakan? 

Adakah sampai kabar kepadamu bahwa dulu mereka pernah berjamaah dalam saf-saf rapi menjumpai Tuhan. Kala itu Tuhan bertanya, dengan beradu pandang dimintai mereka mengakui “Alastu birabbikum Bukankah aku Tuhan kalian? Satu demi satu menjawab “Bala! Syahidna (Benar, Kami bersaksi).”

Negeri Alastu di mana semua ruh diminta persaksian. Tuhan menanyakan adakah mereka mengakui-Nya Tuhan dan berjanji untuk taat, mereka bersungguh-sungguh mengiyakan, bersaksi menyanggupi dalam ketaatan. Bila tanpa perjanjian itu, sungguh tidak akan diciptakan. Ya, siapa pun telah lupa saat-saat indah itu. Lalu, bagaimana agar mereka tahu? Bacalah kabar dari Tuhan melalui kalam-Nya, Al Qur’an. Ternota dalam Surat Al A'raf 172. 

Jika manusia ingat, tentu saja mereka tidak akan lalai dalam kemaksiatan. Tidak larut dalam kemungkaran. Lupa telah membawa mereka pada keadaan seakan kehidupan di dunia ini begitu lama dan kabar kematian adalah hal biasa. Surga bukan suatu yang dielu-elukan dan ancama neraka hanya bualan tak ada yang berarti padanya. Seandainya tak lupa, tidak akan sedetik pun mereka luput dari mensucikan-Nya. 

Kembali kepadaku, adalah aku Minda. Tuhan menyatakan ilmu adalah cahaya-Nya. Dimasukkan kedalamku untuk merengkuh pemahaman. Hanya saja bila aku adalah wadah yang cemar, bagaimana mungkin layak padaku ilmu itu bersemayam. Kuperjelas lagi perkenalan kita, Tuhan memberi namaku Qalbu. Qalbu dari kata qulb. Kau tahu kenapa? Sebab kata qulb mewakili sifat paling dominan padaku, ialah berbolak balik. Sebab cenderung berbolak balik, maka aku butuh lingkungan yang baik. Akulah Minda yang bersarang pada tubuh pelupa.

Posting Komentar