Ini Azab Dunia bila Anak Membantah Orang Tuanya

pict by: mujangkurnia[.]blogspot[.]com

Aku mendengarkan guruku bercerita, tentang seorang lelaki yang meminta izin kepada ibunya untuk bepergian, safar dengan tujuan ibadah, bukan untuk kemaksiatan. Bila ingatanku tidak salah, ketika itu ia hendak umrah. Ibunya yang tua renta melarang, ia terus memelas, hingga ibu itu pun mengiyakan, namun berat hatinya. Walhal, berangkatlah anak itu. Hingga sekian waktu, pada tempat yang ia singgahi, kampung itu tengah dilanda pencurian. Warga kampung sibuk hingar-bingar mengejar pencuri. Lelaki itu sedang shalat di Surau, karena telah kehilangan jejak pencuri yang dikejar, para warga mengalihkan dugaan kepada ia yang sedang berada di Surau. Sebab dialah satu-satunya warga asing. 

Tanpa ampun, semua orang di sana menganiayanya. Satu per satu melampiaskan amarah. Pukulan tumpah ruah ke badannya. Ada yang memotong tangan, ada yang memotong kakinya, ada yang mencongkel matanya. Remuk-redamlah tubuh itu terkulai di lantai, namun masih bernyawa. 

Seketika tersadar ia, dalam lemah tanpa daya, ia mengakui kesalahannya. "Wahai orang kampung, aku bukan pencuri barang kalian, jika kalian hendak menyerapahiku, maka cercaan yang layak untukku adalah, anak yang durhaka. Iya, aku tahu ini terjadi karena aku mendurhakai ibu. Maka, kini, antarkan aku padanya, untuk meminta kemaafan dan keampunan pada Tuhan." Kurang lebih begitu pernyataannya kepada warga kampung itu.

Kemudian, ia pun diantar pulang ke kampung halamannya oleh para warga. Saat telah sampai pada rumah yang dituju, ia meminta untuk diturunkan di ambang pintu. Ketika itu, dengan lirih ia memanggil orang di dalam rumah. Perempuan renta sendirian nan lemah itu pun mendekati pintu. Tanyanya dari sebelah, "Siapa kamu dan ada perlu apa?" 

"Aku hendak meminta sedikit air, guna menghilangkan dahagaku," Ucapnya.

"Ulurkan tanganmu!" Seru ibu itu.

"Aku tidak punya tangan lagi."

"Ulurkan kakimu!" Pintanya lagi

"Aku juga sudah tidak punya kaki."

"Aku tidak bisa keluar, sebab engkau ajnabi (orang asing)."

"Bahkan aku sudah tidak punya mata untuk melihatmu." Ucap si lelaki

Perempuan tua itu, penuh iba, ia pun membukakan pintu hendak memberikan segelas air kepada si cedera yang kini tersimpun di depan rumahnya. Seketika, terhenyak ia. Sadar bahwa peminta-minta itu adalah anaknya. Kini telah tak apa daya, tak siapa pun bisa menolongnya. Dalam isak tangis mendalam, lelaki itu menundukkan wajahnya. Meminta kemaafan. Ia menyadari telah melakukan kesalahan.

Tidak ada ibu yang tak menyayangi anaknya. Tidak ada! Melihat lelaki itu telah kehilangan segala rasa terhormatnya di hadapan manusia, ibu itu memohon keampunan Allah bagi anaknya. Kemudian berseru iya. "Ya Rabb! Cukuplah hingga di sini ia menanggung azab karena dosanya terhadapku, jika Engkau berkenan, ambillah kami berdua." Dan laki-laki itu meninggal bersama ibunya. Wallahu 'alam.

Sebagai penutup postingan ini, aku perlu bilang, tidak perlu muluk-muluk mencari alasan yang cocok untuk menunjukkan betapa seorang anak wajib taat kepada orang tuanya. Sederhana saja, kita semua tahu bahwa manusia tidak punya kemampuan membelah diri selayak amuba untuk berkembang biak. Itu!



4 komentar

menyedihkan ya aini. restu ibu memang di atas segalanya

Reply

Iya, Kak Liza. Ini cerita nyata, dikisahkan berdasarkan riwayat-riwayat sufi.
Memang bakti kepada orang tua adalah ketentuan baku yang tidak bisa dilanggar.

Reply

Alhamdulillah..
Semoga, Bang. InsyaAllah..

Reply

Posting Komentar