Kamu Pernah Kehilangan Kunci Motor di Jalan?



Awal-awal pagi, aku bergegas pulang dari Dayah. Aku harus mengejar waktu, sebelum ke kantor harus sempatkan diri untuk berbelanja dulu, ke Pasar Induk Lambaro. Saat hendak berangkat, berbarengan dengan abang mengeluarkan kendaraannya dari rumah. Seperti biasa, beliau setiap harinya ngopi pagi di warung kopi kampung. Entah kenapa sampai aku berinisiatif meminjam kendaraannya. Kutukar pakai dengan punyaku. Ingatnya, matic lebih mudah kita gunakan untuk membawa banyak barang. Bisa kita taruh di depan. 

Walhal, berangkatlah. Hingga tiba di Pasar Induk, aku terus ke pojok paling ujung, deretan penjual daging, ayam dan ikan. Kutepikan kendaraan ke tempat parkir. Kurebahkan cagaknya. Terhenyak! Tiba-tiba aku terkejut saat hendak mematikan mesin, kuncinya sudah tidak ada. Fiyuh! Jatuh entah di mana dia. Lalu bagaimana caranya aku bisa berbelanja, bila mesin kendaraan ini tidak bisa kumatikan. Bingung sekali bukan?

Kualihkan tempat ke posisi yang lebih dekat dengan penjual ayam. Bismillah, kutinggalkan kendaraan dengan kondisi mesin menyala, mudah-mudahan tidak apa-apa. Aku hanya berjarak empat meter darinya, kalau ada yang mencurigakan aku bisa segera mengambil tindakan. 

Alhamdulillah, selesai sudah beli ayamnya. Lima ekor sudah dimutilasi menjadi potongan-potongan daging ayam yang siap untuk dibumbui. Aku bergegas lagi membeli bumbu, tidak mungkin kendaraan kutinggalkan jauh di situ. Aku pun mengendarainya, berpindah ke bagian pedagang bumbu. Kutepikan hingga jarak dua meter dari tempatku belanja, kubiarkan mesinnya terus menyala saat aku berbelanja bumbu. 

Rata-rata pedagang yang kutuju adalah orang yang sudah kukenal baik. Langganan. Jadi, mereka punya perhatian lebih ke kita. Kuberi tahu saja, motorku tidak bisa dimatikan, kuncinya jatuh. Dia pun bergegas mendahulukanku dari pembeli lainnya. Alhamdulillah selesai sudah segala bumbu dan rempahnya.

Aku pulang, dengan harapan semoga kutemukan kembali kunci itu. Dalam hati terus berdoa, mulut merapal permintaan-permintaan kepada-Nya. Bujukan-bujukan berbalut madah puji, agar Tuhan memberikan petunjuknya. Sepanjang perjalanan, kusisir setiap badan jalan. Tepi kiri, kanan, tonjolan dan lubang keperhatikan lekat, siapa tahu disitu kunciku tercampakkan. Ini jalan yang sama dengan saat aku pergi. Ternyata, hingga sampai ke rumah, kunci itu tidak kudapatkan lagi. Aku mematikan kendaraan dengan kunci cadangan. 

Abang sudah pulang, kuberitahukan saja padanya ikhwal kehilangan kunci. Dia tidak banyak merespon. Kutahu, acuhnya karena kecewa, aku teledor. 

Baiklah! sebagai bukti tanggung jawab, aku kembali mencari kunci yang hilang itu. Kali ini dengan kendaraanku saja. Sudah dua kali bolak-balik dari Lambaed - Lambaro, belum kutemukan juga. Fiyuh! Mata mulai landai bak hendak tertidur karena kupaksakan membelalak dari tadi, memerhatikan jalan. Tiba-tiba, sebuah bus mendengungkan horn cukup kuat. Aku mau pekak dibuatnya. Kutoleh ke belakang, ternyata jaraknya hanya dua meter lagi dari punggung kendaraanku, nyaris tertabrak. Di situ aku benar-benar sadar, Allah hanya mengambil kunciku di jalan, semestinya aku harus ridha. Itu baru kunci, bahkan jika Tuhan hendak mengambil nyawaku di jalan, aku bisa bilang apa? 

Aku pun pulang. Setiba di rumah, aku bilang, "Sudah dua kali bolak-balik ke Lambaro, kuncinya belum ketemu juga, bagaimana, Bang?"

Jawabannya sangat memuaskan, "Ya sudah! Nggak apa-apa. Kalau sudah hilang, mau kita bilang apa. Lain kali harus lihai, jangan teledor lagi." 

"Baik, Bang!" Jawabku lega. Aku tidak bercerita tentang bus. Jika kuceritakan, beureutoh kena repetan. Sebab, sebenarnya, abangku paling protektif terhadap kami semua.



6 komentar

mungkin beda2 tipis dengan aku yg slalu hilang kacamata.
pernah beberapa kali tinggal di tempat ngopi, sebulan kemudian pas ngopi disitu lagi baru ingat haha

Reply

Bahahaha.. Selalunya kita punya kebiasaan yang nyaris sama. Itulah makanya, sejak awal jumpa, aku terus yakin, engkaulah teman yang ditakdirkan berjumpa. ;)

Reply

ceritanya bagus kak...👍👍

Reply

Icha juga pernah Ai, cuma bedanya jawaban yang icha dapat adalah "bukan jatuh, memang kuncinya sengaja dicopot krna udah longgar". Setelah bolak balik cari kuncinya... Sunnguh sakit diii ulu hati. :D

Reply

Terima kasih sudah mampir, Rika :)

Reply

Duh, Sayang.. Sabar, yak! Sakit di ulu hati. :'(

Reply

Posting Komentar