Meuseuraya di Dusun Biduk, Gampong Lampulo. Jangan Biarkan Nisan Berhenti Bicara.

Ahad, 03 April 2016, saya luangkan waktu sejenak untuk turut hadir di acara Meuseuraya bersama team Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh). Meuseuraya kali ini di dusun Biduk/ Bidun Gampong Lampulo - kota Banda Aceh. Aceh sangat beruntung, masih memiliki generasi yang mau peduli kepada sejarah. Usaha besar teman-teman Mapesa patut diapresiasi oleh siapa pun. Mengingat kesadaran itu bukan atas dasar royalti, melainkan keikhlasan yang terpatri dalam jiwa mereka, untuk mengkaji kembali kegemilangan bangsa ini dahulunya. Susah payah yang tak diganjal dengan upah. Di era kapital dewasa ini, jarang bisa kita temukan orang-orang semacam ini.

Membersihkan badan nisan yang baru diangkat dari benaman

Bagi sebahagian orang, kuburan, atau lebih tepatnya nisan, hanya dianggap benda mati yang tak memberi maslahat apa-apa. Tak ada maknanya sama sekali. Tak urung mereka menjadikan nisan tempat menambatkan hewan gembala. Lain pula halnya yang menjadikan nisan sebagai batu asah, ditelantarkan tanpa pemugaran hingga tertutupi belukar. Area pemakaman dialih fungsikan menjadi tempat pembuangan sampah. Miris. Padahal sejatinya nisan itu adalah prasasti yang menginformasikan kepada kita bagaimana kondisi orang-orang yang telah lebih dahulu menghuni tanah ini. Pun dari pandangan agama, kita semua tahu bahwa kehidupan di bawah nisan itu tidak berhenti. Alam barzah adalah masa menanti kiamat bagi para arwah. 


Mengangkat nisan yang terbenam

Di Dusun Biduk, Gampong Lampulo ini, terdapat banyak sekali nisan dengan berbagai corak ragamnya. Diketahui bahwa dahulunya kawasan Lampulo adalah bandar/ pelabuhan saat kerajaan Aceh Darussalam. Perdagangan antar bangsa hanya melalui jalur laut, sehingga tempat yang menjadi pusat pemerintahan sejatinya tidak jauh dari laut. Bidun atau Biduk ini dahulunya adalah sebuah pemukiman yang disesaki penduduk. Banyak sekali pecahan gerabah kuno kita temui di antara benaman pasir dan rerumputan. Sekjen Mapesa, Yusri, menunjukkan kepada saya, perbedaan gerabah dari Dinasti Ming dengan dinasti-dinasti lainnya. Ternyata setiap masa memiliki kekhasan tersendiri. Demikian pula halnya dengan nisan, setiap zaman memiliki ciri yang berbeda. Lanjut kemudian, Yusri menunjukkan perbedaan batu nisan dari periode Pasai dengan lainnya. Ada yang terbuat dari pahatan batu endesit dan ada pula dari batu kapur. Kekuatan dan keindahan nisan menggambarkan kegemilangan masanya. 


Saya memperhatikan pembacaan inskipsi oleh Tgku Taqiyuddin

Di sana saya mendapat banyak pahaman baru, penjelasan mengenai pentingnya menyelamatkan cagar budaya ini. Tengku Taqiyuddin Muhammad Lc, selaku epigraf dan pemerhati sejarah Aceh, membacakan kepada saya pahatan pada salah satu nisan di sana. Sisi kepala bertuliskan syahadah sedangkan sisi kakinya bertuliskan syair “Sesungguhnya dunia itu bagaikan sarang yang dijalin oleh laba-laba” Saya memperhatikannya lamat-lamat. Benar, ternyata nisan memang mampu “berbicara”. Beliau juga menyampaikan, bahwa kita butuh payung hukum yang kuat, agar area ini tidak dialihfungsikan, sebab begitu banyak situs di dalamnya. Kekhawatiran yang wajar, mengingat daerah Kampong Pande yang memiliki kekayaan sejarah yang sama, kini telah berganti wajah menjadi tempat pembuangan sampah. Miris sekali.



Turut hadir di sana, Teuku Zulkarnaini dari Dinas Budaya dan Pariwisata Aceh. Beliau mengungkapkan hal serupa, bahwa area ini harus diselamatkan dari benaman. Saya baru menyadari ternyata area tersebut telah dipancangkan tapal batas di sekelilingnya, untuk alih fungsi lahan, makanya harus ada usaha yang optimal dari pemerhati sejarah khususnya dan dari kita semua umumnya, agar hal yang terjadi di Kampong Pande tidak terulang.
Kiri: Dedy Satria - Arkeolog Aceh, sedang membersihkan nisan.

Akhirnya, mewakili generasi bangsa betuwah ini, saya mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada teman-teman Mapesa; Tengku Taqiyuddin Lc, Irfan M. Nur - CEO Glamour Pro yang penuh antusias dalam bidang dokumentasi setiap kegiatan Mapesa. Dedy Satria – arkeolog Aceh yang aktif terjun lapangan, Masykur – pemerhati manuskrip kuno Aceh. Desi Susilawati, Mizuar Mahdi. Dasma Susanti, Arhas, Kazol, dan seluruhnya yang tidak saya ingat nama satu per satu. Harap maklum, kesan pertama berjumpa, tidak teringat semuanya. Semoga apa yang telah teman-teman lakukan kelak diganjal dengan surga oleh-Nya. 


Nisan "Bebicara" di Biduk Lampulo

2 komentar

Kami sudah lama dengar tentang batu nisan di sana, alhamdulillah disentuh juga. Keren Kakak bisa berkesempatan membersihkan batu nisan. :)

Reply

Alhamdulillah, DekChan. :)

Reply

Posting Komentar