Sempena, Peusijuk Rumah Baru

Bu leukat dan Tumpo

Bismillahi, Alhamdulillah! Segala madah puji marilah kita haturkan ke hadapan pemilik segala pujian, tempat kesempurnaan bersemayam, kepada-Nya muara kesyukuran; ialah Allah 'azza wajalla. Hari ini, tanggal 01 April 2016 Masehi, bertepatan dengan 23 Jumadil Akhir 1437 Hijriah, saya merayakan sebuah pencapaian baru. Setelah sekian lama kediaman ini beralamatkan tasbihaini.blogspot.com, hari ini sah berpindah ke ainiaziz.com. Sekedar informasi, pemilihan nama ini melalui penyaringan yang rumit, berdasarkan voting  rekan-rekan Gaminong Blogger, sehingga keputusannya tidak dapat digugat oleh siapa pun. Terima kasih, Guys! Sekali lagi, hamdanlillah.

Tiga tahun silam, sejak pertama sekali laman ini dibuat, tujuan dari segala tujuannya adalah mengharapkan keridhaan Allah, dengan menyebarkan hal-hal yang tidak mengandung kemungkaran. Di sini tempat saya belajar menulis, menuangkan ide, mengikat ingatan, mencurahkan perasaan. Kita tahu, penghapus itu adalah waktu. Waktu dengan perputarannya, ia menggerus semua yang kita alami kini, menjadikannya kenangan. Berlalu begitu saja. Pagi digantikan siang, siang dikulum malam, demikian seterusnya. Adalah kita yang berada dalam dimensi waktu itu, banyak hal yang membersamai: Suka-duka, asa-cita, kemunduran-peningkatan, di sanalah semua itu terjadi. Demikian, kita butuh laman khusus untuk mengabadikannya.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Al Asy-Syafi'i bahwa; ilmu adalah hewan liar, tali pengikatnya adalah catatan. Sangat benar! Apa yang kita tahu hari ini, bisa jadi esok kita telah lupa, maka hari ini, saat tahu itu masih ada, kita kekang dia dalam tulisan agar tidak lepas. Esok, lusa, bisa kita baca-baca ulang apa yang telah kita tulis. Inilah motifasi besar saya dalam menulis. Mengikat ingatan. Menawan kenangan. 

Tulisan mampu menghubungkan kita dengan masa depan. Maksudnya, orang-orang yang nantinya akan membaca tulisan kita, sejatinya mereka berinteraksi dengan kita. Entah pun saat itu kita masih ada, kadang telah berpulang ke alam barzah, kampung singgah menanti akhirat. Para penulis dikenal melalui tulisannya. Amsal, para ulama yang terdahulu selayak Ibnu Hajar, Imam An Nawawi, Jalaluddin Mahalli, Jalaluddin Sayuthi, Ibnu Qayyim Aj Jauzi, Hamka, dan sederetan ulama akhir zaman lainnya, mereka semua dikenal melalui tulisannya. Namanya diingat oleh para pembaca kitabnya. Ditakdhimi meski tak pernah berjumpa. Tentu saja saya tidak sedebu dari mereka. Setidaknya itu bisa kita jadikan teladan.

Di kediaman baru ini, meskipun telah bertarif, namun saya masih mengusung niat yang sama. Melanjutkan niat yang telah saya bangun semula; mengharapkan keridhaan Allah. Postingannya tidak akan keluar dari koridor ahsan (kebajikan). Adapun jika terdapat beberapa keuntungan nantinya, anggaplah itu anugrah dari langit. Sejatinya, dalam aktivitas apapun, kita harus melibatkan efek ruhiyah, memiliki idra'shila billah (kesadaran akan hubungan kita dengan Allah). Akhiru kalam, billahi taufik wal hidayah. Salam sejahtera untuk pengunjung. 

Posting Komentar