5 ciri-ciri ini memperkenalkan kepada Anda bagaimana Aceh Sebenarnya.

Monumen di Aneuk Galong, Montasik untuk mengenang jasa Maimun Saleh, Pilot Asal Aceh
Sumber : https://sianakdesa.wordpress.com/2012/11/11/story-challenge-letter-j-jet-fighter/

Perbedaan tempat berdampak kepada perbedaan adat dan budaya, perbedaan watak dan tatanan masyarakatnya. Bila kita sedang berada pada tempat yang bukan wilayah kita, tentunya kita harus tahu bagaimana kearifan di tempat tersebut. Agar kita bisa mudah berbaur dan diterima baik di sana.

Berbicara tentang mengenal watak dan budaya sebuah bangsa, bila anda hendak ke Aceh, ingin mengenal lebih dekat, ingin berteman dengan orang Aceh, atau ingin menjadikan orang Aceh sebagai besan Anda, setidaknya anda harus kenal terlebih dahulu watak dan kriteria masyarakat Aceh. Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak jadi meminang, (*eh, kalimat terakhir diabaikan saja :D)

Baiklah berikut lima ciri khas bangsa Aceh

1. Militan

Orang Aceh memiliki semangat yang tinggi dalam memperjuangkan agama, makna hidup, mempertahankan harga diri atau eksistensinya. Jiwa militer bahkan telah diajarkan kepada anak-anaknya mulai dari ayunan. Bayangkan! Bayi yang baru berusia bulanan diayun-ayun hingga kemiringan 30 derajat dari posisi tegak, dengan iringan lullabi (dodaidi) tentang perang. 

Allah hai dododaidang ( Allahu )
Seulayang blang ka putoeh taloe (Layangan telah putus talinya)
Beurijang raye'k muda seudang (Lekaslah besar, Nak!)
Tajak bantu prang ta bela Nanggroe (Pergilah untuk membantu perang, membela negara)

2. Religious 

Di Aceh, nilai agama sangat kental. Ulama sangat dihormati. Perkataan ulama bak mantra mujarab untuk meredam perselisihan dan sengketa. Orang-orang yang mengkaji Islam selalu memiliki nilai lebih pada pandangan masyarakat. Hal yang dianggap mengganggu atau merusak nilai dan keotentikan agama akan ditindak tegas. 

Penegakan hukum yang bersumber dari Allah subhanahu wata'ala merupakan cita-cita seluruh masyarakat Aceh. Tidak ada yang keberatan dengan penerapan syari'at islam. Jika pun ada suara sumbang, bisa dipastikan itu dimulai dari luar Aceh. Di sini, jika pun ada yang kontra, itu lebih akibat dari profokasi. Saya merasa tidak berlebihan dengan kalimat saya tersebut.

3. Nasionalis

Nasionalis, atau lebih tepatnya kita sebut rasis (?). Rasa cinta bangsa sangat terlihat saat mereka sedang berada di luar Aceh. Katakanlah saat mereka di Jakarta atau di luar negeri. Siapa pun yang terindentifikasi berasal dari Aceh, itu akan dianggap saudara. Sekalipun satu berasal dari Aceh Besar sedangkan satunya lagi dari Pidie, tetap dianggap “awak droe” (saudara).

Demikian pula dengan bahasa. Orang Aceh yang tidak bisa berbahasa Aceh (minimal bahasa wilayahnya, selayak bahasa Jame atau bahasan Gayo) itu memiliki nilai buruk pada pandangan masyarakat. Dianggap sombong. Lain halnya, tamu yang datang dari luar, bila bisa bertegur sapa dengan bahasa Aceh saat melewati kerumunan maupun personal, itu sangat berdampak positif. Mereka akan mudah dicintai dan diterima baik oleh masyarakat. 

4. Reaktif

Orang Aceh sangat peka terhadap keadaan sosial di sekitarnya. Mereka tidak suka diganggu, sebab jika tersinggung dan menanggung malu, maka reaksi yang timbul adalah akan dibenci dan bahkan menimbulkan dendam. Merujuk kepada hal yang pernah terjadi sebelum satu dekade ke belakang, konflik Aceh yang berkepanjangan. Itu salah satu bentuk reaktif. Dimana mereka yang dianggap seperatis sebenarnya hanyalah orang-orang yang menuntut keadilan, agar Aceh tidak diperlakukan semena-mena setelah begitu banyak jasa Aceh bagi Indonesia. Beruntunglah, perseteruan ini berhujung dengan damai setelah musibah Tsunami melanda Aceh pada penghujung 2004 lalu.

Sikap reaktif ini tergambar dalam sebait hadih maja, “Ureueng Aceh hanjeut teupèh, Meunyo ka teupèh, bu leubèh han geu peutaba (orang Aceh tidak boleh disakiti, bila ia sakit hati, apapun tidak akan diberikannya). 

5. Loyalitas "tingkat dewa"

Sejarah mencatat bahwa Aceh adalah pemberi donasi paling besar bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Seluruh warga mengumpulkan harta bendanya, menyisihkan emas dan perak, untuk kemudian membeli armada pesawat RI 01. Swadaya ini dari segenap lapisan sosial, tidak hanya orang kaya. Bahkan aku mendengar bapakku bercerita, bahwa tetua mereka rela menanggalkan antingnya untuk disumbangkan bagi perjuangan. Itu semata mata karena loyalitas. Ada pemberian dari wilayah lain yang lebih hebat dari ini untuk Indonesia? 

Demikianlah Aceh dengan segala keunikan di dalamnya yang memesona. Empat hal diatas hanya gambaran paling umum, masih banyak hal lainnya yang tidak habis untuk dinarasikan dan dideskripsikan. Faktual yang terbukti dan terasa ketika kita berada di sana. 



2 komentar

Orang luar banyak y ga tau aceh, tapi nilai dr postingan media. Anehnya y diikuti justru y posting jelek2. Padahal y baik banyak. Salam, mgkn aini lupa, ini Iyah, dulu pernah aktif d flp aceh, di lamprit :)

Reply

Iya, Haniya. Benar itu. Media menggiring publik.
Aini ingat kok. BTW, kenapa sudah jarang hadir kalau ada acara?
Ayuk gabung lagi kita! :)

Reply

Posting Komentar