Bagaimana Hukum Mengganti Puasa Ramadhan di Bulan Sya'ban?


Pict by: rumahsedekah.or.id

Tidak terasa, tinggal beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan puasa. Ramadhan adalah penghulu segala bulan (sayyidul syahr) yang sangat dinanti-nantikan oleh kaum muslimin. Berlapis-lapir berkah dari langit dicucurkan ke bumi sepanjang bulan itu. Berlipat-lipat ganda ganjaran bagi amal kebajikan sepenuh Ramadhan. 

Menjelang Ramadhan, ada beberapa sahabat yang bertanya terkait hukum mengganti puasa Ramadhan tahun lalu di bulan Sya'ban ini. Apakah sah? Mengingat kita tahu bahwa nishfu Sya'ban adalah malam pergantian buku amalan tahunan. Nah, saya tentu saja tidak berani menjawab terlebih dahulu tanpa merujuk pada guru-guru saya yang lebih paham.

Malam kemarin, selepas kelas malam, kami berdiskusi di bilek Tengku Zainab. Sebagaimana biasanya, ada beberapa hal yang kami bicarakan, salah satu diantaranya adalah terkait hukum mengganti puasa Ramadhan di bulan Sya'ban. Ternyata, dari beberapa muta'allim di sana mengakui bahwa, mereka belum pernah mendapatkan dalil yang menyatakan tidak sah mengganti puasa Ramadhan di bulan Sya'ban. 

Jika kita lihat kepada ketentuan hukum hari-hari yang tidak dibenarkan berpuasa, jelas kita tahu bahwa hanya enam hari yang haram berpuasa. Pertama, tanggal 1 Syawwal, yakni hari pertama hari raya Idul Fitri. Kedua, Tanggal 10 Dzulhijjah, yakni hari pertama hari raya Idul Adha. Sebagaimana dalilnya dari Umar bin Khathab ra, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah  melarang berpuasa di kedua hari raya. Pada hari raya Idul Fitri kamu berbuka puasamu dan pada hari raya Idul Adha kamu makan daging qurbanmu.” (HR Bukhari Muslim)

Kemudian, haram juga berpuasa pada hari tasyriq (tiga hari setelah Idul Adha), yakni: 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Sebagaimana dalil dari Nubaisyah Al-Hudzali ra, Rasulullah bersabda; “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan, minum dan berzikir kepada Allah, (Mutafaqun ’alih). Selain itu, juga diharamkan berpuasa pada hari syak (ragu-ragu), yakni hari terakhir bulan Sya’ban yang diragukan datangnya awal puasa, saat orang melakukan rukyatu hilal (melihat anak bulan). Pada hari itu diharamkan berpuasa sesuai dengan hadits Rasulullah; "Barangsiapa yang puasa di hari diragukan datangnya puasa, maka ia telah berdurhaka kepada Abal Qasim (:yakni Rasulullah saw)”. (HR Abu Dawud).

Jadi, selain hari-hari yang tersebut di atas, maka dibenarkan mengganti puasa Ramadhan, sepanjang tahun, bahkan di bulan Sya'ban sekalipun. Namun demikian, berbeda halnya dengan puasa sunnat. Tidak dibenarkan berpuasa sunnat apabila tidak berpuasa pada separuh awal bulan Sya'ban. Sebagaimana hadits riwayat Ibnu Hibban menyebutkan bahwa, Abu Harirah berkata: ”Rasulullah bersabda,’Tidak ada puasa (sunnah) setelah pertengahan bulan Sya’ban sampai datang bulan Ramadhan.”

Ada sedikit konklusi dari diskusi kami malam itu, tentang sesuatu yang boleh namun tidak patut. Yakni tentang melambat-lambatkan mengganti puasa Ramadhan. Sebagaimana kita tahu, bahwa puasa yang harus diganti itu seumpama hutang kita kepada Allah. Sudah semestinya hutang segera dilunasi. Mahabaiknya Allah memberi kita nikmat hidup bertali arus hingga ke Sya'ban. Padahal boleh saja Allah mengambil nyawa kita sebelum itu, kan? Kalau berhutang dengan manusia, kita punya kesanggupan bayar, tapi tidak kita bayar, besar kemungkinan dia bakal tagih keras. Kalau perlu, dibawanya parang sekalian. Tapi Allah tidak demikian. Allah ulur lagi waktu untuk kita, sehari dua hari, sebulan dua bulan, hingga berganti tahun. Betapa Mahabaiknya Allah. Maka, segeralah ganti puasa ramadhan jika kita punya rasa malu pada Tuhan.

Demikian catatan sederhana saya. Kepada dewan guru yang lebih paham, mohon koreksi jika ada hal yang harus saya perbaiki dari postingan ini. Jazakumullahu khair, pembaca sekalian. :)

2 komentar

Bermanfaat. Semua kembali pada pemahaman masing-masing Aini.

Reply

Hehehe. Iya, Bang Ubai. Benar itu. :)

Reply

Posting Komentar