Medan Lebih Ramah dari Aceh?



Sayap kiri Citilink di temaram langit Medan

Pertengahan bulan lalu saya sempat ambil cuti untuk ikut liburan beberapa hari ke Medan, berdua dengan rekan kerja. Kami berangkat via Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang. Jadwal penerbangan semestinya pukul 04.25 petang. Karena delay dan ini-itu, akhirnya baru tiba di Kuala Namu pas azan magrib berkumandang. Status sebagai musafir tentu saja mendapatkan rukhsah, kami tidak langsung shalat di Bandara. Kuniatkan saja jama' takhir dan qashar nanti bila telah tiba di hotel, sekalian dengan 'isya.

Pertanyaannya, kenapa kali ini memilih ke Medan? bukan ke tempat lain saja. Jujur, saya sangat penasaran dengan Medan. Kota yang dekat dengan Aceh namun belum pernah saya singgahi. Orang bilang Medan begini dan begitu, macam-macam. Ada baiknya, supaya pasti, kita pergi dan lihat sendiri. Setiba di Kuala Namu, kami segera menuju terminal kereta api bandara, hendak menuju Kota Medan. Dengan harga tiket 100.000,-/ orang, kami mendapatkan kenyamanan yang cukup baik sepanjang perjalanan dengan kereta api. Setiba di terminal pemberhentian, kami bergegas keluar dan mencari taksi. Beruntungnya, rekan saya telah terlebih dahulu mendapatkan contact layanan Blue Bird di area kota Medan, katanya angkutan ini lebih aman dan terpercaya. Beliau memang sangat lihai dalam hal beginian. Tak ada yang rumit, semua lempang, dan atmosfer Medan menyambut kami dengan sangat ramah.

Sampai sejauh ini dan sehitam malam pertama di kota Medan, belum ada yang yang terasa janggal. Masih sama seperti tempat lainnya. Hingga menjelang siang hari, ketika kami memutuskan untuk keluar sejenak dari Garuda Plaza Hotel guna jalan-jalan ke pusat perbelanjaan di Kota Medan, nah di situlah semua kejanggalan bermula. Mungkin bagi orang lain hal ini biasa saja, tapi saya merasa begitu asing. 

Kusebut saja, kami wara-wiri dua jam di Center Point, sekedar untuk "cuci mata" saja sih sebenarnya, bukan untuk berbelanja. Di sana, bukan saya yang memerhatikan orang tapi saya yang diperhatikan. Tahu kenapa? Sebab kami mengenakan pakaian sempurna. Saya dengan jubah seperti biasa, Alhamdulillah juga kali ini bermotif bunga-bunga, coba kalau seperti yang lazim saya kenakan yaitu jubah hitam, sah lebih dipelototi agaknya. Geli-geli seram saya dengan pemandangan ribuan paha perempuan. Pengunjung di sana rata-rata roknya di atas lutut, mendekati pinggang. Saya sebagai perempuan saja geli, apatah lagi laki-laki, ya? Ah, sudahlah! Jangan kalian bayangkan.

Cerita punya cerita, jam sudah menunjukkan pukul 12.00, siang. Perut mulai keroncongan. Kami mencari gerai yang menjajakan makanan. Jika tidak salah ingat, agaknya kami tengah berada di lantai tiga, atau lantai empat waktu itu (*Mohon maaf, daya ingat saya sangat buruk), kami singgah di sebuah outlet untuk makan. Menarik sekali, suasananya jauh berbeda dengan seluruh tempat yang pernah kusinggahi sepanjang berlibur ke kota lainnya, bahkan tak pernah kudapti di Aceh. 

Pertama masuk, kita disambut ramah oleh pelayan depan resto. Kemudian dituntun untuk memilih tempat duduk. Hebatnya, mereka menyekat gerai menjadi dua wilayah; smoking area dan no smoking area. Untuk orang-orang yang doyan mengendus asap, dipersilahkan mengambil lokalisasi yang telah disediakan. Pernah kalian temui restoran semacam ini? Mungkin Anda pernah, tapi saya baru ini kali pertama. Kemudian, menariknya lagi, saya perhatikan, beberapa diantara pelayan perempuannya mengenakan celana dan rambut disanggul rapi. Beberapa lainnya justru mengenakan rok sopan dan kerudung hitam terpasang rapi meutup kepala. Subhanallah, ini pemandangan toleransi yang sangat indah. Karyawan tidak dipaksa menanggalkan idealismenya hanya karena bekerja di sana. 

Bebarapa perusahaan bonafit yang bergerak dibidang market di negeri ini justru sangat mendiskriminasi orang-orang berkerudung. Mereka 'terpaksa' menanggalkan kerudung dan rok dan mengenakan celana karena pakaian protokoler perusahaan. Apalagi kalau bekerja sebagai SPG, mutlak harus dandan yang menor. Tapi di sini tidak demikian. Berkali kali saya kagum dengan resto yang satu ini. Makanan nya pun cukup enak. Ya, karena saya pecinta masakan tanah air, kemana pergi makanan tetap seperti-seperti ini. Lidah saya susah beradaptasi dengan makanan orang luar negeri. 

Menu makan siang itu

Kalau diantara kalian ada yang ingin membuktikan apa yang saya sampaikan ini, mungkin ingin mengulang ketakjuban yang pernah saya rasakan, bila bertandang ke kota Medan, singgahlah ke Center Point. Agaknya itu Mall terbesar di sana dan baru-baru juga diresmikan. Saya sempat ambil gambar dari depan resto yang saya maksud. Perhatikan gambar di bawah. Nanti kalau jumpa, singgah saja untuk memastikan bahwa yang saya sampaikan ini benar.

Gerai makanan yang saya maksudkan
Lalu, dari sederetan yang saya cermati di sana, kesan yang saya lampaui selama tiga hari di Medan, ragam corak interaksi sosial, saya akhirnya meng-iyakan kata orang. Medan itu tidak cocok untuk orang seperti saya. Memang benar, kemana pun kita pergi, yang kita rindukan adalah tanah sendiri. Saya rindu wanita berkerudung menjuntai menutupi dada dan punggung. Saya rindu suara azan bersahut-sahutan dari toa Mesjid yang satu dan Mesjid lainnya, Meunasah yang satu dan Meunasah lainnya. Rindu dengan pemandangan laki-laki mengenakan sarung dan berpenutup kepala. Rindu anak-anak menyandang kitab dan sajadah hendak pergi tempat pengajian agama. Aceh ternyata memang lebih ramah untuk orang seperti saya. Terima kasih, syari'at Islam. Terima kasih juga, Bunda Lya untuk pelajaran sepanjang perjalanan ini. 

6 komentar

center point itu depan stasiun bukan kak? *daya ingat agak buruk juga :D

Reply

Sepertinya di belakang, Bu Dokter :D

Reply

kakak udah pernah ke center point dan dikirain orang melaya

Reply

Hahaha.
Aini entah disangka orang mana kemaren itu, Kak.

Reply

Kami belum pernah ke situ. Nggak tahu akan dikira orang mana. Orang India mungkin ya.
Di Jakarta dan Tangerang juga ada kok Kak Aini yang karyawan ceweknya tetap boleh pakai jilbab. Dan memang banyak restauran yang punya smoking dan non smoking room untuk kenyamanan tamunya. Datanglah kak ke Jakarta biar kami ajak maen-maen di Kota Tua. :D

Reply

Mungkin ente bakal dituduh orang Korea, Bang.
Oo. banyak yak? Hmm.. Jadi pengen diguide sama Bang Cit. Ntar ya, kalau ke Jakarta pasti Aku japri abang.

Reply

Posting Komentar