Kain Kafan untuk Perempuan Ahli Ibadah

asas04[dot]blogspot[dot]com

Ini sebuah kisah, mengenai seorang perempuan yang memperoleh keistimewaan, sebagai balasan dari Allah atas ibadahnya, memuliakan bulan Rajab.

Dahulu kala di sebuah negeri yang makmur yaitu negeri Basrah terdapat seorang wanita tua yang sangat tekun beribadah. Ia menghabiskan sisa-sisa umurnya dengan menghambakan diri kepada Allah. Apabila telah memasuki bulan Rajab, ia menambah kualitas dan kuantitas ibadahnya. Karena ia tahu bahwa Rajab adalah salah satu bulan yang distimewakan oleh Allah, selain Sya’ban dan Ramadhan. Ia senantiasa berpuasa dan zikir kepada Allah di sepanjang bulan Rajab. 

Suatu hari, wanita tua ini berpesan kepada anak laki-lakinya; “Wahai anakku, bila suatu hari telah tiba ajalku, maka kafani tubuhku dengan kain ini, kain yang biasa aku pakai untuk beribadah dalam bulan Rajab.” Katanya sambil memperlihatkan kain tersebut. 

Hari berganti hari, masa berganti masa dan kini tibalah ajalnya. Wanita ahli ibadah tersebut telah dipanggil kembali ke sisi yang Maha Kuasa. Sebagaimana jenazah orang muslim pada umumnya, maka wanita ahli ibadah ini pun diperlakukan sama. Dimandikan, dikafani dan dishalatkan sebelum dikuburkan. 

Sebenarnya, anak laki-laki tadi ingat akan wasiat ibunya, bahwa ia meminta dikafani dengan kain yang biasa dipakainya untuk beribadah dalam bulan Rajab. Namun demikian, anak laki-laki tersebut tidak sampai hati mengkafani ibunya dengan kain yang sudah lapuk, lusuh dan usang. Ia mengambil kain sholat yang kumuh tersebut kemudian menyimpannya di lemari. Lantas  ia pun membeli kain yang baru untuk mengafani ibunya. 

Setelah upacara pemakaman selesai, dia pun kembali pulang ke rumah. Sontak ia terkejut, ternyata kain usang yang tadinya ia simpan kini telah hilang. Ia mencoba mencari cari ke mana kain tersebut, ketika itu terdengarlah suara asing dari dalam rumah .

”Ambil kembali kainmu, karena Kami telah mengkafaninya dengan kain yang ia inginkan. Sesunguhnya Kami tidak pernah membiarkan orang yang berpuasa dalam bulan Rajab dalam keadaan duka cita dan tinggal seorang diri di dalam kuburnya.” 

Laki-laki tersebut diliputi oleh ketakutan dan kecemasan yang luar biasa. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia pun kemudian kembali ke kuburan ibunya. Ternyata, apa yang terjadi benar benar di luar batas dugaannya. Ia mendapati kain kafan yang ia pakai untuk mengkafani ibunya tadi sudah terlipat rapi dan terletak diatas gundukan tanah merah, kuburan ibunya. 

Demikianlah keutamaan yang diperoleh oleh wanita ahli ibadah tersebut. Meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah di bulan Rajab menjadikannya dicintai oleh Allah dan diberikan keistimewaan tersendiri. Wallahu a’lam. 

8 komentar

Nice post ainii...

Reply

Ngeri wak adek ini bahasannya hihihi

Reply

Hehehe
Terims kasih, kakak :)

Reply

Sharing-sharing ringan saja ini, Bang. Hihihi

Reply

jadi ngeri nih baca pembahasannya :)

Reply

Wah, ngeri ya? Ada merinding?

Reply

Posting Komentar