Konsekuensi Tidak Berpuasa di Bulan Ramadan bagi Perempuan Hamil dan Ibu Menyusui.

pict by: caracekterupdate[dot]com

Bagi perempuan, ada dua kabar yang sangat menggembirakan. Pertama, lamaran dan pernikahan. Kedua, kehamilan hingga kelahiran buah dari pernikahan. Menjelang Ramadan ini, aku adalah orang yang kecipratan bahagia itu. Beberapa rekan mengabari persiapan pernikahan mereka. Beberapa lainnya mengabari kehamilan. How nice! Tahniah untuk kangkawan sekalian dari aku yang turut berbahagia. Terutama untuk Ummu Rasikhin yang riang wal sumringah menyambut kehamilan anak ke lima nya. Semoga dianugrahi satu anak perempuan lagi, saat remaja nanti lekas mengikuti jejak kakaknya untuk jak beut (mengaji) di Darul Muarrifah – Lam Ateuk. Jujur saja, aku mengagumi perempuan yang suka memiliki banyak anak.

Berhadapan dengan Ramadan dalam kondisi hamil muda, sementara mereka juga terganjal masalah kesehatan, tentunya ini masa yang sulit. Seperti Dekna dengan kehamilan pertamanya, dia memiliki masalah dengan kesehatan lambung juga. Kondisi kehamilannya yang lemah membuat dia berpikir dua kali untuk tetap berpuasa. H-1 Ramadhan, dia menghubungiku, guna berdiskusi mengenai rukhsah (keringanan) bagi perempuan hamil untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan, serta konsekuensinya.

Allah Mahabaik, Maha melindungi, Maha menyayangi. Tentu saja Allah tidak akan memudharatkan hamba-Nya. Sebagaimana yang kuingat dari pelajaran yang pernah kuperoleh di bale beut, bahwa dibenarkan kepada perempuan hamil dan ibu menyusui untuk tidak berpuasa sepanjang Ramadan. Namun demikian, dibebaskan dari berpuasa di bulan Ramadan bukan berarti tidak dibebankan puasa Ramadan sama sekali. 

Adapun konsekuensi tidak berpuasa di bulan Ramadan bagi perempuan  hamil dan ibu menyusui, yakni sebagi berikut:

1. Membayar fidyah

Ditetapkan bagi perempuan hamil dan ibu menyusui untuk membayar fidyah (denda), berupa bahan makanan pokok sebanyak 1 mud dalam hitungan harian. Jika satu hari ia tidak berpuasa, maka dia harus memberi 1 mud untuk orang miskin. Bila dua hari, maka 2 mud, dan seterusnya. Sebagaimana halnya kita di Indonesia, bahan makanan pokoknya adalah nasi, maka fidyah yang harus dibayar itu dalam bentuk beras.

Satuan mud ini merupakan acuan takar bangsa Arab, jika dikonversikan dengan takaran Indonesia, maka setara dengan 510 gram - berdasarkan pendapat jumhur ulama. Di balai pengajian Gampong, untuk memudahkan pemahaman ibu-ibu, Teungku sering mengkonversinya kedalam acuan kaleng susu krimer. Di mana satu hari dikenakan ± 2 kaleng susu krimer. Terkait hal ini, setelah ditelusuri, ternyata kapasitas satu kaleng susu krimmer ialah 375 gram, maka diambil ikthtiath dua kaleng untuk menghindari keragu-raguan. Adapun ketentuan membayar fidyah itu bila seseorang tidak berpuasa karena khawatir mudharat bagi bayi atau janinnya, sedangkan ia baik-baik saja. Demikian pemahaman yang kuperoleh setelah berdiskusi dengan karibku Hendri Julian, kandidat Master yang tengah menimba ilmu agama di Mesir, sekarang.

2. Menggantikannya di bulan yang lain

Sebagaimana yang telah tersebut semula, bahwa tidak wajib berpuasa di bulan Ramadan bukan berarti tidak wajib puasa Ramadan sama sekali. Bagi perempuan hamil dan ibu menyusui, setelah membayar fidyah, mereka juga dikenakan kewajiban menggantikan (qadla) puasanya di bulan yang lain. Sebagaimana telah termaktub dalam kitabullah, Quran Surat Al Baqarah Ayat 183-184 yang artinya sebagi berikut;


"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,(183) (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (184)."


Demikian ulasan singkat mengenai konsekuensi tidak berpuasa di bulan Ramadan bagi perempuan hamil dan ibu menyusui. Saya rasa dua hal di atas bukanlah perkara yang memberatkan. Justru memudahkan kita untuk tetap memberi perlakuan terbaik bagi janin dan bayi yang kita sayangi, sementara itu kita juga tetap menjaga kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah ta’ala, Zat yang telah memberi kita janin dan bayi itu sendiri. Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Kepada dewan guru dan teman-teman sesama thalabah, mohon koreksi apabila terdapat kerancuan dari catatan sederhana seorang yang ‘awam ini, jazakumullahu khairan.

10 komentar

Thankyou kak aini, semoga ulasannya bermanfaat :)

Reply

GIB'ers semakin menunjukkan 'spesialisasi' masing2. Postingan yg penting dan bermanfaat, Aini.Jazakillah khàir.

Reply

Berguna ulasannya. Kebetulan saya menyusui ramdhan kali ini.

Reply

Kak, bahas tentang haid bagi perempuan di bulan Ramadhan dong. Requet adikmu nih :D

Reply

Thanks sharingnya, Aini. Walo tidak sedang dalam dua keadaan di atas, postingan ini adalah wawasan yang diingatkan kembali, jadi kalo adabyang bertanya, jadi yakin menjelaskannya. :)

Reply

Terima kasih banyak, Ayi.. :)
Aamiin

Reply

Hihihi. Agaknya jurusan ini lebih mudah untuk orang awam ngeblog seperti saya. Wa'alaika yujzik, Bang. :)

Reply

Waah.. bahagia mendengarnya. Salam buat si baby dari aunty Aini ya, kak. :*

Reply

InsyaAllah.. akak upayakan tentunya. Buat adik kesayangan abang. Hahaha ;)

Reply

Hehehe. Aini menulis ini untuk mengikat ingatan sendiri juga, kakak. Senang jika bisa bermanfaat untuk teman-teman. :)

Reply

Posting Komentar