Miwa! Panggilan untukku oleh Sumayya.


Hari ke dua Idul Adha tahun lalu, aku menjemputnya ke rumah. Dia bosan, “Abi dan Ummi berlebaran di Jakarta, suami sudah pulang ke Sigli, tinggal berdua saja dengan kakek di Darussalam,” begitu akuinya. Dari pagi kami jalan-jalan, keliling Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, mengunjungi rumah-rumah para senior FLP Aceh. Saking asyik-masyuk dan kompaknya, kami berdua disangka saudara. Ia diduga adik kandungku oleh orang tua Isni - salah seorang teman yang rumahnya kami kunjungi.

Puas berkeliling, kemudian dia ikut minum kelapa muda di rumahku, bersama teman-teman FLP lainnya. Setelah itu, kami tidak pernah berjumpa lagi. Dia sibuk dengan kuliah dan keluarga, demikian juga aku dengan dunia kerja. Semula ada pin BBM (pribadi) yang dibagikan untukku, dan ternyata juga telah mati suri. Dia jarang sekali update di Facebook. Lambat laun aku kehilangan komunikasi dengan gadis manis itu.

Kemarin, tetiba aku lihat ia mengomentari status (fb) Ayi, salah satu teman kami. Sontak aku nimbrung untuk sekedar bertanya kabar. Aku antusias sekali, seperti latah (bisa dibayangkan? kalau nggak bisa, jangan!). Lama setelah kukomentari, tidak ada balasan darinya, ingatku mungkin dia sedang offline. Baiklah, tak mengapa. 

Menjelang siang tadi, saat aku masih berurusan dengan beberapa lembar pekerjaan yang belum selesai, tiba-tiba dia menyapaku via WA, mau tahu pembukaan obrolan kami? Yuk! Hahaha

Bisa dibaca? Agaknya gambar ini kurang terang. Hihi
Dan setelah itu aku diberikan alamat rumah barunya, tempat ia tinggal sekarang. Siapa sangka tertanya dekat sekali dengan kantor tempat aku bekerja, tidak lebih jauh dari jarak lompatan kelinci, begitu kira-kira, jika kalian tidak keberatan kutulis dengan majas hiperbola. Tak menanti siang, aku berbegas melipat laptop dan pulang. Aku ingin sekali berjumpa dengannya (lagi). 

Setiba di sana, alaweeeuu.. luar biasa! Dia sedang menggendong bayinya. Tidak lama kemudian, aku minta bagian. Eh, maksudnya minta gendong juga. Hehehe. Tahu sendiri lah kalian, perempuan paling tidak bisa diam saja saat melihat bayi, pasti mau ikut andil. Entah untuk sekedar mencubit pipi, mengecup kening atau dibopong-bopong sambil dibacakan lullabi.

Oups.. Sebentar dulu. Kalian pasti ingin tahu siapa yang dari tadi berkali-kali kusebut sebagai “dia.” Mari berkenalan. Dia adalah...

Hilwa Salsabila bersama gadis kecilnya :)

Hehehe. Aku lekas menggendong bayi mungil menggemaskan itu. Hilwa bilang hari ini usianya baru satu bulan, genap 30 hari.

“Siapa namanya, Wa?” Tanyaku.

“Sumayya, Kak!” Jawabnya sambil melempar seualas senyum ke arahku.

Lalu, aku hening. “Eh, perempuan ya?” Aku baru sadar.

“Nah, kan, semua orang bilang mirip laki-laki.” Ucap Hilwa, sambil menoleh ke arah mertuanya yang tengah duduk di antara kami. Harus kuakui, Sumayya sangat mirip ayahnya. Mirip sekali. Aku bilang, anak perempuan yang mirip ayah insya Allah betuwah. Pun demikian, anak laki-laki yang mirip ibu juga betuwah. Begitu yang sering kudengar dari ibu-ibu di kampung. Mertuanya menggangguk, isyarat sepakat. Insya Allah akan betuwah. Aamiin

Karena terlalu bahagia, kami pun mengulang cerita tentang kenangan kami dulu; tentang kuliah Hilwa yang sudah selesai seminar, tentang suaminya yang dalam waktu dekat akan ke Jordan untuk ikut MTQ, dan bla.. bla.. (ada obrolan rahasia, mohon maaf nggak boleh kutulis semua). Aku baru menyadari, barangkali ada orang lain di rumahnya yang sedang istirahat siang. Syukurlah, Hilwa meyakinkan bahwa Abi dan Ummi sedang di Jakarta, suaminya sedang keluar. Alhamdulillah aman, lanjutkan bercerita. 

Aku bilang, sebelum Ramadan kemarin, sempat jumpa dengan Abinya, di Zakir Kupi Lamprit, aku ada pertemuan dengan kolega, sesama perempuan. Kebetulan berhadapan meja. 

Hilwa tanya, “Ada tegur sapa, Kak?” 

“Nggak usah,,, untuk apa? Akak kenal Abi, namun tidak sebaliknya.” Hahaha

“Mestinya sapa aja, bilang terus, ini teman Hilwa, Abi ramah kok, kak,” katanya

Tentu saja aku tidak seperti itu. Tidak SKSD (sok kenal sok dekat) dengan orang-orang yang hebat. Apalagi beliau seorang tokoh masyarakat. Pun aku dan Hilwa telah bersahabat dekat jauh sebelum aku mengenal orang tuanya. Jadi persahabatan ini bukan “karena-karena”.

Tetiba.. “Assalamu’alaikum!” Terdengar seseorang membuka pintu, masuk dari sisi garasi sambil menghela koper. Pak Nasir Djamil pulang. Aku hening, dalam hati menggumam, “semoga obrolan tadi tidak terdengar olehnya.” Jelas tidak kayaknya, beliau baru juga tiba dari bandara. Lalu, Hilwa memperkenalkan aku ke orang tuanya, kami bersalaman. Kuakui, beliau memang sangat ramah, bicaranya juga santun. Salut kita dengan tokoh yang satu ini.

Sebenarnya aku ingin lekas pulang, karena merasa sungkan. Sumayya pun sudah dipindahkan ke ayunan, tapi Hilwa mencegah, biarlah shalat zuhur dulu di rumahnya. Azan berkumandang dan hujan sudah reda. Aku pamitan. Oh, satu yang belum kuceritakan; oleh Sumayya, aku akan dipanggil Miwa. Sebutan Aceh untuk kakak dari ibu. Hilwa bilang, aku orang pertama yang ikhlas dipanggil Miwa, yang lain semua maunya dipanggil ‘Ama (sebutan Arab). Padahal semula aku menawarkan diri untuk dipanggil Misyik, ternyata sebutan Misyik itu untuk nenek. Aku baru hari ini tahu hal itu. Hahaha

Oia, mau tahu bagaimana kesan-kesan aku bersama Hilwa Salsabila, hingga kami sedekat ini, sila intip di:

4 komentar

Ka ainiiii, so sweettt
Peluk cium buat miwa dari sumayyaaa :*

Reply

Sedang di luar kota, Tgku.. Hihihi

Reply

Balas peluk kecup dari Miwa.
Fufufu.. Kangen Sumayya lagi. :*

Reply

Posting Komentar