Pemahaman Dasar: Iman dan Islam

Pict by : tombolcerita[dot}net


Teman-teman seangkatan saya, yang menghabiskan masa kecilnya untuk tumbuh besar di gampong, tentu saja tidak melewatkan momen belajar pendidikan agama di balai-balai pengajian (Bale Beut), bukan? Kita mengkaji kitab - kitab dasar agama, baik itu terkait ketauhidan, maupun tata cara penyembahan. Saya ingat betul dengan satu kitab untuk pemula, yakni Maisailal Mubtadin. Kitab rincian yang berisi tentang defenisi iman, islam, dasar-dasar ibadah, thaharah, pembagian rukun shalat dan sebagainya. Kitab ini merupakan buah karya seorang ulama Aceh berkebangsaan Turki, yakni Baba Daud. Beliau adalah murid sekaligus juru tulis bagi Syeh Abdul Rauf Alfanshuri (Syiah Kuala). Bahkan separuh bagian akhir dari tafsir Mawa’idhul Badi’ah -karya fenomenal Syeh Abdul Rauf- dilengkapi olehnya.

Di Bale Beut, setelah menyelesaikan juzk ‘amma, kami biasanya diharuskan membawa ketan kuning untuk peuphon qur’an rayeuk (mulai mengaji Alquran). Seiring dengan memulai belajar Alquran inilah, mengaji kitab Masailah pun dimulai. Kini saya mengakui kajian semacam ini sangat besar manfaatnya. Mulai dari kecil ditanamkan pemahaman tata cara ibadah, agar mantap memahami syarat dan rukun ketika nanti telah wajib melakukan ibadah. 

Diakui atau tidak, banyak di antara kita hari ini yang belum paham thaharah (tata cara bersuci). Tidak mampu membedakan jenis-jenis air, kapan dibenarkan tayammum, tidak mengetahui syarat, rukun dan sunat dalam shalat, tidak memahami batasan-batasan aurat. 

Dalam hal ini, sebagai upaya untuk membangkitkan kembali ingatan lama tentang pelajaran semasa jak beut, serta untuk mengikat kenangan, memperkuat ingatan, saya berniat untuk menuliskan kembali pemahaman-pemahaman akan hal itu, satu per satu. Semoga bermanfaat bagi saya sendiri khusnya, dan bagi para pembaca umumnya.

Mengenai iman. Apakah iman itu? 

Iman adalah keyakinan yang dibenarkan (tashdiq) dengan hati, ikrar yang diucapkan dengan lidah, dan implementasi dalam wujud perbuatan. Hati membenarkan bahwa Allah lah zat yang patut disembah, tiada suatu pun yang bersekutu dengan-Nya. Hati meyakini secara totalitas, tanpa keraguan sedikit pun, bahwa nabi Muhammad adalah rasul yang diutus-Nya, bahwa segala tuntunan dalam agama yang diajarkannya itu merupakan risalah dari Allah. Lidah mengucapkan ikrar (persaksian) berupa dua kalimat syahadat, sempurna tanpa cacat. Tidak sah iman jika hanya mengucapkan satu bagian saja (: “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah,” kemudian tidak melanjutkan, “dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah,” atau sebaliknya).

Kemudian, implementasi dari persaksian hati dan lidah tersebut diwujudkan dalam perbuatan. Wujud dari iman inilah yang dinamakan islam, yakni mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya (peubut suroh peujioh teugah, yang larang Allah bek takeurija). Islam dalam artian selamat, bahwa keselamatan bagi seseorang apabila ia menjalani kehidupan sebagaimana tata hidup yang telah Allah gariskan. Baikkah itu interaksi vertical, yakni hubungannya dengan Allah, maupun interaksi horizontal, yaitu hubungannya dengan masyarakat, alam sekitar, serta dengan dirinya sendiri.

Siapa pun kita yang telah mukallaf (dikenakan taklif hukum), baik merdeka maupun hamba sahaya, wajib mengetahui rukun islam dan rukun iman. Adalah rukun islam itu lima perkara:

1. Mengucap dua kalimat syahadat

2. Shalat sehari semalam lima waktu

3. Puasa di bulan Ramadan

4. Membayar zakat

5. Menunaikan ibadah haji bila memiliki kemampuan


Sedangkan rukun iman ada enam perkara:


1. Iman kepada Allah

2. Iman kepada Rasul

3. Iman kepada malaikat

4. Iman kepada kitab

5. Iman kepada hari kiamat

6. Iman kepada qadha dan qadar, kebaikan dan keburukannya.

Agama merupakah kesatuan empat komponen, yakni iman, islam, tauhid dan ma’rifat. Dengan demikian, setiap muslim juga diwajibkan untuk mempelajari ma’rifatullah dan ma’rifaturrasul. Mengenal Allah melalui 20 sifat yang wajib ada pada-Nya, 20 sifat yang mustahil ada pada-Nya, dan 1 sifat yang mubah pada-Nya, besarta dengan dalil akli dan dalil naqli (akal dan nash). Mengenal Rasulullah melalui 4 sifat yang wajib ada padanya, 4 sifat yang mustahil ada padanya, serta 1 sifat yang mubah padanya. Ma’rifat adalah mengenal akumulasi dari sifat-sifat tersebut, kerap dikenal dengan istilah I’tiqad 50 (Aceh; 'itikeud limong ploh).

Adapun mengenai itikeud limong ploh tersebut akan saya tulis dalam laman terpisah. Insya Allah.

Terima kasih telah berkunjung, silakan berkomentar.

13 komentar

Bagus tulisannya, penting untuk terus menuntut ilmu dalam perjalanan hidup. Bermanfaat.

Reply

Bagus tulisannya, penting untuk terus menuntut ilmu dalam perjalanan hidup. Bermanfaat.

Reply

Serasa duduk di meunasah lagi pagi pagi baca tulisan aini hehe

Reply

Teringat masa lalu duduk banyak tanya sama tengku-tengku yang tidak ada habis-habisnya...

Reply

Berat ni. Pelajaran sekolah yg diulang-ulang dan itu penting.

Reply

Kami suka sekali cara kak aini menguraikannya. Sangat santun. Terasa lagi duduk di depan ustazah. Tulis lagi yayayaya :)

Reply

Hehehe.
Terima kasih, Bang Az :)

Reply

Bang Mastah bisa ajah. Hahaha

Reply

Eh, ternyata kita punya pengalaman yang sama.
Saya juga begitu dulu. Kami ngaji rumah Nekmu.

Reply

Saja aku tulis, Bang Ubai. Sebenarnya untuk mengingat kembali pelajaran lama. hehehe

Reply

Siyyap, Adik!
Sesuai request antum deh pokoknya. ;)

Reply

Lembut, runut, dan bernas. Tulisan yang bermanfaat Aini. Dan membuat rindu, krn sekarang bale beut semakin langka di kota2. Hanya ada sekadar mengaji belajar baca Quran.

Reply

Iya, Bang. Kadang, semakin ke sini, kita semakin rindu untuk kembali ke masa kecil dulu.

Reply

Posting Komentar