Selebrasi Minggu Terakhir di Aceh


Senin - Selasa - Rabu - Kamis - Jumat - Sabtu - Minggu, kemudian diulangi lagi putaran dari hari pertama hingga seterusnya. Begitulah perubahan masa dengan timbul selamnya matahari. Sekali siklus pergantian itu disebut sepekan, terus berulang dan tak akan ada habisnya. Lalu, kenapa saya menulis “Minggu Terakhir” sebagai judul postingan ini? Apakah setelah minggu tersebut tidak ada lagi Senin - Selasa berantai yang menjumpakan kita pada miggu berikutnya? Apakah siklus terhenti? Terputus? Tentu saja tidak, saudara-saudara.

Minggu terakhir yang dimaksud adalah pekan terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan. Sebagaimana kita ketahui, di Aceh, aktivitas di bulan Ramadhan tidak senormal hari biasa. Tidak ada warung kopi yang buka sedari pagi. Tidak ada warung nasi yang buka siang, tidak tersedia tempat leyeh-leyeh untuk menyantap minum dan makan selayak biasa, dan tentunya tak ada yang mengunjungi pantai. 

Nah, dua kata terakhir di paragraf di atas lah yang akan menjadi pembahasan kita. Minggu Terakhir adalah pekan sebelum Ramadhan, dimana masyarakat Aceh berduyun-duyun ke pantai. Penuh suka cita mengadakan jamuan makan dan mandi laut. Apa maksud dari tradisi ini, saya pun tak bisa mengutarakan alasan logisnya. Barangkali, dengan anggapan bahwa kedepan akan dibatasi dengan rutinitas bulan Ramadhan, maka sekarang puas-puasin dulu ke pantainya. 

Seperti yang saya amati minggu kemarin, saya sengaja datang untuk menyaksikan sendiri bagaimana ramainya pantai di pekan terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan. Terkejutlah! Nyaris tak ada pasir yang tak terpijak. Bibir pantai sesak. Anak-anak, Ibu-Ibu, Bapak-bapak. Muda-mudi, suami-istri, bahkan jomblo sekali pun memadati tempat ini. Tepatnya di pantai Tanah Unsyiah, Ujong Bate – Kab. Aceh Besar.


Memadati Pantai 

Ada yang menarik, bahwa mereka sengaja datang dan membuat jamuan yang meriah –potong kambing- untuk acara ini. Setidaknya saya melihat ada lebih dari sepuluh kampung yang warganya berkunjung ke sana. Sebut saja Gampong Cot Beut, Gampong Gue, Gampong Lamceu, dll. Pak keuchik, kepala pemuda dan warga semua kompak bergotong-royong memasak gulai kambing yang akan dinikmati warga.


Memasak Gulai Kambing


Setelah gulai kambingnya masak, segera saja tiap-tiap keluarga dibagikan kuwah tersebut dengan acuan yang tersedia. Sedangkan nasi dan cemilan lainnya telah disiapkan oleh ibu-ibu. Saya yang baru pertama kali menyaksikan acara ini sampai tercengang-cengang, takjub dan tak menduga sampai sebegitunya. (*Harap maklum, sebab saya memang bukan pecinta wisata pantai.)


Pembagian gulai kambing untuk masing-masing keluarga 

Kemudian, setelah usai makan, lekas mereka terjun ke air, merasakan riak ombak menerjang. Semua keluarga diangkut. Sampai balita pun dibawa mandi. Saya sampai geli dengan pemandangan seorang wanita dengan kondisi hamil tua pun juga berada di sana. Ah, entahlah, semua orang tak berpikir sama.

Dari informasi warga di sanalah saya tahu bahwa hal semacam ini mereka adakan setiap tahunnya. “Ada yang nyinyir kepada kami, menyatakan bahwa seakan kami menganggap bulan puasa itu datangnya dari laut, sehingga disambut di pantai. Padahal mereka tidak mengetahui, ini hanya merayakan suka cita, bersama keluarga dan ajang mempererat silaturrahmi.” Begitu ucap Ibu Nazari - seseorang yang saya wawancarai.

Terlepas dari ini budaya siapa dan kapan bermulanya, saya hanya melihat sisi positif sebagaimana yang disampaikan oleh narasumber di atas, bahwa cara orang merayakan suka cita berbeda-beda. Kita boleh suka, pun jika tidak suka tak mengapa. Tidak hanya selebrasi Minggu Terakhir, kedepan ini, sepanjang bulan Ramadhan, tentu ada beberapa yang tak seragam di tengah-tengah kita, baik itu penentuan awal Ramadhan: dengan metode hisab atau rukyartu hilal, terkait bilangan rakaat shalat sunnat, nah marilah kita menjadi bijak dengan tidak melihat perbedaan, melainkan mencari persamaan bahwa tujuan kita beribadah adalah sama-sama mengharapkan keridhaan Allah. 

Lumayan panjang juga ya, catatan pagi ini. Baiklah, kita padai saja dulu, kalau terlalu panjang bisa mengundang bosan. Berhubung pekan depan telah memasuki bulan Ramadhan, saya memohon maaf bila ada salah diantara kita. Selamat merayakan suka cita di bulan nan mulia untuk semua pembaca. Marhaban ya Ramadhan.

8 komentar

Sebuah renungan menyambut Ramadhan. Semoga apa yang dilakukan tdk keluar dr konsep agama.

Reply

ITU KAN CUMAN DI ACEH BESAR NYATA NYA DI SIGLI TIDAK ADA SPERTI ITU

Reply

Alangkah bahagianya hidup dan ramdhan di aceh,

Reply

lain lubuk lain ikannya, lain ladang lain pula belalangnya, tradisi seperti ini hanya berlaku di sejumlah daerah saja di Aceh, mungkin salah satunya adalah Aceh Besar yang telah diulas Aini di atas. Sisi positifnya, hal ini akan merekatkan kembali tali silaturahmi warga yang selama sebelas bulan ke belakang mungkin terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, pun ini bisa menunjukkan sikap antusiasme masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadan. Pun bisa diartikan, nanti saat bulan puasa tiba kita akan menyibukkan diri dengan ibadah, jadi tak perlu/sempat ke pantai, mekanya marilah berenang sepuasnya sebelum ramadan tiba :-D

Reply

Semoga saja, Bang. Sudah sepatutnya kita berindak tak boleh keluar dari koridor agama. :)

Reply

Hehehe. Masing-masing regional memiliki kekhasan tersendiri. Kearifan lokal sebagai khazanah budaya kita. Hehehe

Reply

Ayuk, Bang. Ke Aceh bersuka cita sepanjang ramadhan hingga lebaran. :)

Reply

Benar banget, Kakak. Lain lubuk lain ikannya. Aku nggak biasa mandi laut, kemaren itu lihat lihat orang lain mandi saja sudah puas. Hahaha

Reply

Posting Komentar