Secarik Catatan tentang Ketentuan Berimam

Pict by: Essay Writer

Sudah dua bulan belakangan laman ini tidak kuisi dengan postingan baru. Ada semacam rasa berdosa, ketidakbertanggungjawabanku terhadap web ini benar-benar terlihat nyata, mengingat di web lain aku justru menulis rutin, minimal seminggu sekali. Kuakui, alasannya materialistis, karena faktor finansial. Manusia cenderung pada apa-apa yang bernilai nyata. Di sana per postingannya berbayar. Sementara di sini, menulis untuk seru-seruan, merayakan suka cita. Itulah yang membuat batinku kian remuk redam kala mengingat web ini terabaikan. Merasa berdosa.

Pagi Jum’at nan berkah ini, kubuka beberapa draf tulisan yang pernah kusimpan, mungkin ada sepotong – dua yang bisa kulengkapi, untuk di-publish. Bertemulah dengan sebuah file bertemakan “Imamah”. Ingatnya, tulisan ini kutulis enam bulan belakangan. Suatu pagi, setelah semalamnya aku ikut pengajian tentang tatacara berjamaah, aku ingin menjadikannya satu postingan. Pagi itu, karena buru-buru harus ke kantor lagi, hanya tiga paragraf yang mampu kutuang dalam tulisan, selebihnya masih terjerat dalam ingatan. Baiknya, ini saja kulengkapi untuk ku-publish pagi ini. 


= Imamah = 

Hal yang paling utama dari segala aktivitas yang hendak kita geluti adalah mengetahu prinsip kerja. Apa pun itu. Entah bidang pembangunan, pengairan, mekanisasi, pengajaran, bahkan hal yang paling sederhana sekalipun. Semua harus dipahami prinsip kerja terlebih dahulu agar dapat mendapatkan hasil yang maksimal, selesai dalam waktu yang optimal, efektif dan efisien.

Tidak hanya dalam rutinitas yang menyangkut pekerjaan, bahkan ritual ibadah pun demikian. Kita harus benar-benar memahami konsep, agar melakukannya dengan benar. Bila tidak benar, alih-alih ingin meraih ridha dari yang disembah, justru mendapatkan kemurkaan dari-Nya. Dalam hal ini, saya ingin mengutarakan sedikit tentang apa yang saya pelajari tadi malam. Tentang tata cara berimam. 

Bila seseorang bermakmum pada imam yang berhadats, sementara ia tidak mengetahui bahwa imam itu berhadats, maka sah shalatnya, beserta mendapatkan pahala jamaah, meskipun imam tersebut tidak sah shalatnya. Namun dengan satu syarat: dia mengerjakan shalat secara sempurna dari awal, bukan seorang yang masbuk hingga tidak sempat membaca Al Fatihah. 

Dalam bab imamah, seorang masbuk (telat hadir) tetap dihitung rakaat pertamanya apabila ia sempat rukuk beserta imam, meskipun ia tidak sempat membaca Al fatihah. Al fatihah pada rakaat pertama bagi seorang masbuk ditanggung oleh bacaan imam. Nah, dalam kondisi ini, bagi seorang masbuk, karena ia tidak sempat membaca Al Fatihah, sedangkan imam yang berhadats itu tidak sah shalatnya, maka ia pun tidak sah jua. Sebab tidak lengkap shalatnya dengan ketiadaan Al Fatihah. Maka ia harus mengulang (i’adah) shalatnya apabila masih dalam waktu wajib tersebut, dan wajib meng-qadha bila ternyata telah keluar dari waktu wajib tersebut.

Bila seseorang bermakmum pada imam yang ternyata imam itu adalah seorang kafir (orang yang tidak beragama islam), diketahui kemudian secara terang-terangan maupun tersembunyi, maka wajib bagi makmum itu mengulang kembali shalatnya, setelah nyata bahwa imam yang diikutinya itu kafir. Hal ini pernah terjadi di Aceh, dahulu.

Pict by: nahimunkar[dot]com

Barangkali beberapa kita pernah membaca, atau peka sejarah, tentang kedatangan Snouck Hurgronje ke Aceh, dahulu. Dalam misinya itu, ia berhasil mengelabui warga Aceh. Kecapakapnya menguasai Al Quran menjadikannya mudah diterima sebagai ulama. Beberapa kali ia mengimami shalat masyarakat Aceh, bahkan ulama Aceh sekalian. Aku mendengar dari cerita guruku, bahwa sekembalinya ke Arab Saudi, dia membeberkan dirinya tak pernah berislam. Berbetulan waktu itu Allahyarham Al Mukarram Abu Wahab Seulimum tengah berada di Arab. Mengetahui bahwa Hurgronje tidak pernah berislam, beliau mengirimkan surat ke tanah air, meminta siapa pun yang pernah bermakmum pada Hurgronje untuk meng-qadha (ganti) kembali shalatnya, sebab tidak sah. Tentang kejadian ini, bila teman-teman memiliki literatur sejarah kongkritnya, mohon berbagi ilmu ya. Terima kasih sebelumnya.

Kembali ke perkara imamah. Sebenarnya masih ada dua pembahasan lagi, terkait hal yang membatalkan imamah. Sayangnya aku sudah tidak ingat. Begitulah ilmu kalau tidak dicatat, mudah sekali lupa. Seperti kata Imam Asy-Syafi’I; “Ilmu itu ibarat hewan liar, tali pengikatnya adalah catatan.” Ke depan akan aku usahakan, seusai pengajian, kucatat dulu di kertas, bila ada waktu luang, kupindahkan ulang ke web. Aku akan berusaha untuk lebih giat lagi di sini. Anggap saja ini janji. 

4 komentar

Kalau shalat yang diganti karena imam yang kafir itu gimana caranya? Kan shalatnya udah lewat dan dalam waktu yang lama *seperti cerita shonugroje tadi ๐Ÿ˜
Mungkin Aini bisa menjelaskan sedikit๐Ÿ˜€

Reply

Iya juga, seperti yg bg Ibnu bilang. Mungkin penjelasannya boleh di catatan berikutnya, kak. Udah janji kan ya supaya lebih giat disini :D

Reply

Shalat yang dilakukan di luar waktu disebut shalat qadha.
Kita tahu, pada bacaan niat shalat, ada penyebutan "ada-an", ini menandakan shalat itu dikerjakan dalam waktu fardhu hari tersebut, sedangkan bila telah keluar waktu, maka kata "ada-an" di ganti dengan "qadha-an".

Meskipun telah berlalu waktu yang lama, apabila shalat seseorang tidak sah, maka wajib bagi seorang itu melakukan kembali shalatnya. Shalat dengan jumlah rakaat yang sama, rukun dan sunat yang sama, hanya saja dikerjakan pada waktu yang berbeda. Katakanlah seseorang tidak sah shalat isya, hari Jum'at tahun lalu. Hari ini dia menyadarinya, pada saat waktu subuh. Maka terbenar bagi dia melakukan shalat isya tahun lalu itu setelah shalat subuh hari ini. Shalat isya itu disebut, qadha. Shalat fardhu yang di-qadha, lebih tepatnya.

Demikian, Bang. Semoga uraian saya mudah dipahami.

Reply

Sudah akak jawab di atas, Dek. Postingan ke depan, kita isi dengan tema yang berbeda saja. Biar lebih variatif, sehingga tidak monoton. Hehehe
Helka harus rajin-rajin meneror saya untuk menulis, yak!

Reply

Posting Komentar