5 Keuntungan Berprofesi Sebagai Guru

arsipkukuliahku[dot]blogspot[dot]com


Siapa pun, di masa kecilnya pasti pernah ditanya: “Kamu, kalau sudah besar, mau jadi apa?” Setiap anak akan memberikan jawaban yang berbeda. Jawaban paling dominan di masa kecil saya adalah dokter, guru dan polisi, disusul beberapa orang yang ingin jadi pilot dan lainnya. Saya masuk di golongan anak-anak yang bercita-cita menjadi dokter. Betapa pun, tidak semua cita-cita harus terwujud. Tuhan tidak memberi apa yang kita inginkan, melainkan yang kita butuhkan. Ah, sudahlah, jangan sampai tulisan sederhana ini lagi-lagi menjadi ladang curhat privasi. 

Adapun yang ingin saya sampaikan adalah tentang cita-cita teman masa kecil saya yang terwujud, yakni hendak menjadi guru. Kini, saya melihat mereka benar-benar beruntung dengan cita-cita yang benar. Dari mereka, saya menyaksikan, ada banyak sekali keuntungan berprofesi sebagai guru. Lima di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Memiliki banyak anak.

Keceriaan anak-anak Husnul di MIN Lambhuk

Guru tidak mengikuti program KB. Keuntungan utama berprofesi sebagai guru adalah memiliki banyak anak. Kira-kira teman-teman tahu ke mana arah dari kalimat pertama saya pada paragraf ini? Baiklah, agar tidak ambigu, saya jelaskan. Maksudnya, guru tidak pernah membatasi jumlah anak yang ingin mereka didik. Mereka mengajarkan anak bangsa, siapa saja berhak mengenyam pendidikan. Semua anak-anak diperlakukan sama. 

Dalam beberapa kesempatan, saat saya dan teman-teman berkumpul, atau menghadiri suatu perhelatan, kerap sekali beberapa anak datang dan bersalaman dengan teman-teman saya yang berprofesi sebagai guru. Saya tanya, “Siapa?” Mereka senyum, “anak-anak saya,” jawabnya.

Bukan sekali dua kali, bahkan nyaris setiap saat. Mereka kerap dikerumuni oleh banyak anak. Dari generasi ke generasi. Guru boleh saja lupa anaknya, karena banyak. Tapi anak-anak itu pasti ingat gurunya. Beruntung sekali kan, bila seorang mengajar di satu atau dua sekolah, katakanlah lima sampai sepuluh tahun, kalikan saja jumlah anak-anaknya, bisa mencapai ribuan.


2. Banyak anak banyak rezeki

Keuntungan lainya dari berprofesi sebagai guru adalah banyak rezeki. Lagi-lagi, cerita dari teman yang berprofesi sebagai guru; “Kemarin bocor ban motor di daerah Blang Bintang, syukurlah ada yang kenal saya, anak didik dulu waktu di SMA Modal Bangsa. Syukurlah, ada dia yang bantu.” Anak-anak pasti tidak akan membiarkan gurunya dalam kesusahan.

Di lain kesempatan, dalam angkutan umum, saat turun, ternyata ongkosnya sudah dibayar duluan. Siapa yang bayar? Ternyata muridnya yang tadi ngobrol sebelum dia turun terlebih dahulu. Guru tidak pernah pamrih, tapi yang namanya kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan. 

Dirayakan ultah sama anak-anak 

Saya sering cemburu terhadap Husnul, adik saya. Setiap ulang tahun, banyak sekali hadiah dari anak-anak didiknya di MIN Lambhuk. Belum lagi kue tar dan ucapan selamat milad yang ditulis tangan oleh anak-anak kecil itu, mengharukan. Semboyan "banyak anak banyak rezeki" itu memang terbukti.

3. Gajinya tinggi

Saya tidak sebut bagian ini untuk guru bakti, melainkan untuk yang sudah pengangkatan, sebagai pegawai negeri. Kalau kita konversikan pendapatan mereka dan jam kerja, pendapatan karyawan kantoran dan jam kerjanya, berdasarkan golongan yang sama, jelas gaji guru itu jauh lebih tinggi. Bagiamana tidak? Mereka hanya kerja setengah hari. Dari pagi sampai siang, sedangkan karyawan kantoran sampai sore hari. Belum lagi kalau guru tersebut sudah mengantongi SK sertifikasi. Ada gaji tambahan lainnya yang dibayar tiap tiga bulan sekali dengan jumlah yang sama dengan gaji pokok bulanannya. Waahhh… pasti hawa (ingin sekali) kita, kan?

Dalam sebuah kesempatan, saat saya menghadiri jamuan makan teman saya, bersama temannya yang bekerja sebagai manager sebuah Bank. Bapak itu bercerita banyak tentang ‘penderitaan’ karyawan Bank di bawah koordinasinya. Jam kerja mereka terlalu padat, peraturannya ketat. “Orang melihat karyawan Bank itu sangat sejahtera, padahal kelebihan mereka hanya di-gengsi. Dari segi income, dibandingkan dengan banyaknya pekerjaan, mereka tidak lebih sejahtera dari guru yang hanya bekerja setengah hari.” Ujarnya.

4. Menjadi lebih pintar

Tahukanlah oleh kita semua, saat seorang guru mengajar dua jam di kelas, ia telah menghabiskan separuh malamnya untuk belajar tentang materi pagi ini. Semua guru pasti belajar terlebih dahulu sebelum mengajar. 

Nimbrung saat Tgku Zainab mengulang Kitab I'anah

Saya melihat teman-teman di Dayah (pesantren). Mereka mengulang bacaan kitab hingga larut malam, memaknainya, mencari penjelasan dari gurunya lagi, tentang kalimat-kalimat yang dianggap rumit, hanya untuk dua jam mengajar di kelas subuh, mereka menghabiskan malamnya untuk belajar hingga subuh. Apakah mereka rugi dengan hal itu? Tentu saja tidak. Semakin lama belajar, mereka semakin pintar. 

Tidak hanya guru di pesantren yang demikian, guru di sekolah juga melakukan hal yang sama. Proses belajar paling intensif adalah saat mereka ingin mengajar. Bukan rahasia lagi, bahkan ini adalah pengalaman semua mahasiswa, saat di bangku kuliah dulu kita kerap lalai, abai, karena merasa belum terlalu terdesak. Paling giat belajarnya saat midterm, atau pun final. Ya, tidak? Atau jangan-jangan ini hanya pengalaman saya saja. hihihi


5. Amal akhirat

pict by: wiazanuri[dot]blogspot[dot]com

Saat seorang anak adam meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya, kecuali tiga perkara: anak yang soleh yang selalu mendokan orang tuanya, sedekah jariah dan ilmu yang bermanfaat. Bagi seorang guru, mereka berpotensi mendapatkan ketiga pintu itu jika ia memiliki anak, mau berjariah dan tentunya mengajarkan anak bangsa dengan ilmu yang berguna. Pengajaran yang diberikannya kepada seorang anak didik, kemudian anak itu tumbuh besar dan mengemban ilmu yang diperolehnya dari guru, dibagikannya lagi kepada generasi berikutnya, ini akan menjadi amal jariah yang tidak terputus. Arus pahala yang mengalir terus menerus. 

Mengajarkan satu huruf hijaiyah saja bernilai 10 pahala, apatah lagi mengajarkan mereka satu Alquran, prinsip dasar agama, tata cara ibadah dan lain sebagainya. Demikian pula mengajarkan ilmu kifayah seperti pendidikan matematika, fisika, bahasa asing dan sebagainya, tentu juga mendapatkan ganjaran kebaikan dari Allah subhanahu wata’ala. 

Demikianlah serangkaian keuntungan berprofesi sebagai guru. Masih banyak lagi keuntungan lainnya yang tak habis kita tulis satu per satu. Guru adalah pahlawan. Jika tidak mengajarkan anak bangsa, minimal kita harus mampu mendidik anak sendiri. Ajarkanlah mereka Alquran, minimal Alfatihah, karena itu akan dipakai sepanjang hidupnya.

Sekian dulu, sampai jumpa di postingan berikutnya.

19 komentar

Semuanya tepat, Aini. Saking banyak anaknya, tiap tahun berganti, saya sampai lupa dengan wajah mereka. SMP dan SMA itu cepat sekali pertumbuhan, tahu-tahu sudah "gede" banget. Soal nama saya memang sangat pelupa, tapi wajah juga akan lupa kecuali mereka tegur, "Pak"

Reply

Memang enak jadi guru ya kak,,, banyak dikenal orang, apalagi klu murid a sudah jd orang besar,, saat disapa, 'Buk/Pak', rasanya gimana gituqan,,,! :D

Reply

Jadi guru, juga bisa melatih kesabaran :D

Reply

Guru pekerjaan mulia, karena mengajar seperti belajar dua kali. Pertama, saat menyiapkan bahan ajar. Kedua, saat mengajar. Semoga para guru senantiasa dimudahkan segala urusan, di tangan guru perbaikan masa depan bangsa.

Reply

Guru pekerjaan mulia, karena mengajar seperti belajar dua kali. Pertama, saat menyiapkan bahan ajar. Kedua, saat mengajar. Semoga para guru senantiasa dimudahkan segala urusan, di tangan guru perbaikan masa depan bangsa.

Reply

Itulah, Bang
Aini jadi iri sama kalian.
Ingin juga punya banyak anak..

Reply

Yell, semakin baper kakak jadinya.
Sekayak menyesal tidak bercita-cita jadi guru, dulu.
huuuhuhu

Reply

Benar banget, Bang Benu.
Guru harus tahan dengan tingkah anak-anaknya yang sangat banyak dan beragam

Reply

Allahumma aamiin.
Semoga Allah limpahkan berkah untuk guru-guru kita, Bang Az.

Reply

Kami juga demikian. Wiwww senangnya banyak murid. :)

Reply

Betapa menyenangkannya menjadi guru ya, Mbak; bila dijalani dengan ikhlas karena Allah Swt. maka dunia dapat, akhirat juga dapat. Alhamdulillaah...

Reply

Guru memanglah satu dari profesi mulia... Mendapat keberkahan ilmu dan amal jariah dari ilmu yang bermanfaat yang disebarkan dan diwarisi masa ke masa.

Reply

Menjadi guru memang profesi yang mulia, tapi aku sendiri enggan menjadi guru (secara harfiah) sebab tidak siap dengan konsekuensinya, menjadi guru buatku bukan cuma sekadar mengajarkan calistung kepada anak didik, atau mengajarkan rumus-rumus, tapi juga mengajarkan etika dan budi bahasa, moral, atau apapun sebutannya, sehingga guru layak menjadi sosok yang bisa digugu dan ditiru :-) nice post Aini....

Reply

makasih aini.. artikelnya jadi ngingatin mira..atau lebih tepatnya bikin semangat mira jadi pengajar :D , selama ni nyari2 alasan buat resign - padahal ngajar jg blm haha

Reply

Alhamdulillah.. Akak ikut sennanggg..

Reply

Iya, Mas. Guru dapat dua hal sekaligus. Gaji bulanan dan balasan akhirat dari Allah kelak di akhirat. Kuncinya, ya itu, ikhlas. :)

Reply

Semoga kita menjadi terbaik untuk generasi kita ya, Kak Haya.
Setidaknya, guru untuk anak-anak kita sendiri.
Ummu madrasatul ula. Ibu adalah sekolah pertama :)

Reply

Iya sih, Kak. Ada beban moral yang besar yang harus dipikul orang seorang guru.
Jika seorang guru gagal menjadi teladan yang baik, maka mereka mendapat dua ganjaran. Pertama, lingkungan. Kedua, Tuhan.
Ingat pepatah: "Jika guru kencing berdiri, murid kencing berlari" (Oupss!) :#

Reply

Duh.. Kak Mir..
Aku jadi hawa ni, pengen ngajar juga.
Kece banget kalian yang berprofesi sebagai pengajar.

Reply

Posting Komentar