#AcehSebenarnya: Peumulia Jame Adat Geutanyo


Postingan ini saya tulis pada hari ke lima Idul Adha, sayangnya baru bisa saya tuntaskan sekarang, sebab satu dan lain hal yang mengganjal. Bercerita tentang Idul Adha di Aceh, ada banyak sekali hal menarik. Sebagaimana lazimnya di seluruh pemukiman muslim, setiap hari raya Idul Adha, selalu diramaikan dengan penyembelihan hewan qurban. 

Orang-orang kaya mendermakan hartanya dengan membeli sapi dan kambing pilihan, disembelih di Meunasah, Sekolah, Kantor dan instansi lainnya, guna dibagi-bagikan kepada seluruh khalayak. Saya termasuk orang yang beruntung, hari raya pertama, keluarga kami mendapat bagian daging qurban dari Gampong. Hari raya ke dua dari Sekolah tempat Husnul (adik saya) mengajar, juga dari Dayah Darul Muta’allimin, yang merupakan qurban swasembada masyarakat Turki, pada hari ke 4 Idul Adha ini.

Tidak hanya tentang qurban, bahkan ajang silaturrahmi pun tak kalah serunya. Seusai menunaikan shalat Id, seluruh warga menziarahi makam anggota keluarganya yang telah tiada. Setelah itu, baru menyambangi sanak famili, guru, sahabat dan rekan kerja mereka. Menjadikan momentum hari raya untuk saling menjalin keakraban, mempererat tali persaudaraan. 

Dokumentasi hari raya tahun lalu. Flper's Bersilaturrahmi ke kediaman Ade Oktiviary

Berbicara mengenai keseruan silaturrahmi, ini tahun kedua saya merayakannya bersama Keluarga Besar Forum Lingkar Pena. Ada agenda rutin tahunan, anggota FLP di Aceh selalu memanfaatkan momentum hari raya untuk mempererat silaturrahmi antar anggota. Adanya kunjungan ke rumah-rumah senior, di kawasan Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, tentunya. Tak ingin ketinggalan, saya selalu melibatkan diri. 

Seperti yang pernah saya sampaikan pada postingan-postingan sebelumnya, bahwa bagi saya, FLP adalah rumah kedua yang penuh cinta. Bila ingin merasakan hangatnya keakraban, maka terlibatlah dalam berbagai acaranya.

Berbetulan lumayan banyak tamu di rumah, saya memilih bergabung dengan teman-teman setengah hari saja, setelah siang. Dari rumah saya, dengan diboncengi Ernita Handayani, kami menuju ke rumah Rahmat Aulia di Montasik. Kami berdua saja, karena teman-teman yang lain telah lebih dahulu berangkat, mereka singgah sejenak di Masjid Meulayo - bersebelahan dengan SMAN Modal Bangsa- guna menunaikan shalat zuhur di sana. 

Saya hafal betul jalan ke Montasik, sehingga Nita tidak perlu khawatir tersesat. Ternyata, karena saya mengambil jalan pintas, akhirnya kami tiba lebih awal di rumah Ketua FLP Cabang Banda Aceh yang kerap disapa “Dekmat” itu. Saya dan Nita memilih tidak masuk dulu, tapi menunggu teman-teman di teras Meunasah, depan rumah Dekmat.

Oia, mohon kesediaan sedikit beralih topik. Sebenarnya, panggilan Dekmat itu dahulu adalah panggilan keakraban dari saya kepadanya. Tapi, kini, nyaris semua rekan kami cenderung memanggilnya “Dekmat.” Berkat sekali nama panggilan itu, ternyata. Tidak disangka menjadi Fenomenal. Bahkan, adek-adek di bawah angkatan kami ada yang bimbang, mereka jauh lebih muda, jika mereka panggil “Bang Dekmat,” kan janggal sekali jadinya. Sayang juga mereka, harus menanggung kebimbangan. (hahaha)

Baiklah, kita kembali saja ke tema. Tidak boleh larut-larut bahas perasaan dalam tulisan, nanti malah di-bully oleh orang-orang yang lupa bahwa mereka pernah menjadi objek bully-an.

Jadi, setiba mereka semua di kediaman Dekmat, saya dan Nita segera merapatkan barisan. Kami masuk beriringan. Dekmat, lalu saya, disusul Nita, Cut Faradhila, Cut Atthahirah, Fery Mardiansyah. Setelah itu, Kak Fardelyn Hacky dan Bang Salmi menyusul bersama Abel - putra kecil mereka. 

Peumulia jame adat geutanyo (memuliakan tamu adalah istiadat kita). Keluarga Dekmat merupakan salah satu dari sekian banyak potret tuan rumah di Aceh yang memuliakan tamunya. Mula-mula, seperti lazimnya berlebaran, kami disuguhi minuman. Tidak hanya satu gelas untuk seorang, bahkan ada segayung lainnya, sebagai tambahan. 

Saya ingat betul, minuman kami waktu itu berwarna merah. Dari rasa dan aromanya ketahuan itu sirup cap patung, favorit orang Aceh tentunya. Di Aceh, terutamanya pada masyarakat pedesaan, memberikan minuman tanpa rasa (hanya air putih) kepada tamu sangat tidak indah, kesannya seperti tidak memuliakan. Makanya jangan heran, setiap rumah yang Anda datangi, pasti dihidangkan sirup, teh atau pun kopi. 

Di kediaman Dekmat, kami juga dihidangkan berbagai macam kue lebaran. Toples berisi cemilan bermacam-macam. Lebih dari itu, jambu merah di depan rumahnya pun cukup menggugah selera. Dekmat menawarkan berbagai sambal cocol untuk seumeulhap (merujak jambu). Bang Salmi ambil peran memetik jambu dari batang, dibantu oleh Abel, serta Kak Eky istri tercintanya. Sedangkan saya dan teman – teman berperan menyiapkan cocolan. Dekmat mondar-mandir mengambil gula, garam, cobek, piring, cabe kecil, kecap, cuka, macam-macam pokoknya.

Setelah dibuat cukup kenyang, kami pulang. Dari Montasik, perjalan kembali menuju wilayah perkotaan Banda Aceh. Matahari yang tadinya tegak, telah kian bungkuk ke barat. Azan berkumandang pertanda waktu Asar telah tiba. Kami bersilaturrahmi ke kediaman Ernita Handayani di Ulee Kareng, sekalian hendak menunaikan shalat Asar di sana. 

Foto bersama setelah menunaikan shalat Asar, di rumah Nita. Terlihat wajah-wajah yang bersih di foto ini. Hahahah

Di rumah Nita, sebelum shalat, juga terlebih dahulu disuguhkan minuman. Lagi-lagi, sirup berwarna merah favorit kita semua. Tidak hanya satu gelas seorang, bahkan segayung lainnya untuk tambahan. Puas-puasin lah pokoknya. Meneguk segelas air dingin ini begitu melegakan. Serasa lerai seluruh lelah yang tadinya menggelayut di badan, sepanjang perjalanan.

Sebelum senja tiba, kami harus memanfaatkan waktu singkat yang tersisa. Saya bersama teman-teman bergegas menyambangi rumah Fery Mardiansyah, di Lambhuk. Tidak jauh dari kediaman Nita, hanya terpaut 2 kilometer saja, agaknya. Setiba di rumah Fery, seperti tahun lalu, sambutan hangat dari kedua orang tuanya membuat kami merasakan kenyamanan, bak rumah sendiri (*kalimat yang terlalu percaya diri ini, semoga Fery tidak keberatan. Hahaha)

Afrah membuka toples kue setelah menghidangkan minuman. Saya lupa, apa yang ditanya Dekmat padanya sehingga mereka bertatapan. Mohon jangan ada yang cemburu. Ini hanya spontanitas, serba kebetulan, tidak direncanakan.

Di rumah Fery, ada seorang gadis cantik jelita. Tak lain ialah adik perempuannya. Jika ingatan saya tidak salah, namanya Afrah. Gadis itu sangat pandai membuat kue. Tahun lalu, kami menghabiskan setoples peyek buatannya. Tahun ini kami malah (disuruh) habiskan cake tiramisu dan eskrim di kulkasnya, semua. Siapa yang berani menolak makanan enak? Tak ada! Sebagaimana di rumah-rumah sebelumya, di rumah Fery pun minumannya segar banget. Masing-masing segelas sirup bewarna merah beserta segayung lainnya untuk tambahan. Begitulah, di Aceh para tetamu begitu dimanjakan. 

Hari kian senja. Matahari separuh telah ditelan laut. Sebagaimana biasa, saya tidak boleh pulang terlalu larut, takut berubah menjadi angsa (*ini parodi). Setidaknya harus tiba dirumah sebelum gelap tiba. Nita kembali mengantar saya, sedangkan teman lainnya kembali ke rumah masing-masing. Perjalanan silaturrahmi hari ini berakhir di rumah Fery. 

Saya yakin, dari semua keluarga yang kami sambangi, mereka sama sekali tidak keberatan dengan seluruh pelayanannya. Justru mereka bahagia karena dikunjungi. Sebab, sebagaimana yang diajarkan dalam agama, bahwa beserta seorang tamu, Allah utus seribu malaikat rahmat. Wajar saja Dekmat, Nita dan Fery begitu memuliakan tamu. Tidak hanya mereka, bahkan seluruh masyarakat Aceh dikenal bersikap seperti itu.

Diminta berpose oleh tuan rumah untuk difoto. Spotnya bagus, ya udah deh. "Hayyuk!" kami bilang. :D

Sampai di sini dulu, kita berjumpa di postingan berikutnya. Kalau bacaan ini menarik, boleh di-share ke teman-teman lainnya yang suka membaca. Salam titik dua tutup kurung. :)

4 komentar

Seumeulhap ya namanya untuk ngerujak bagi orang Aceh Besar? Bereh, saya baru tahu.
#AcehSebenarnya asik ya budayanya. :D

Reply

undang-undanglah kakak n bg tunis ke rumah aini, trs makan2 n ngerujan gitu

Reply

Iya, Mak. Seumeulhap. Baru kali ini ada yang bilang begitu ya? Sebagian juga menyebutnya melincah. Aceh kaya bahasa. Hehehe

Reply

Pastinya, Kak. Kakak dan Abang sudah Aini catat dalam list orang-orang yang akan dikirimkan undangan. ;)

Reply

Posting Komentar