Tradisi Meugang. Eksistensi Kehormatan Agam Aceh


Salah satu pedagang daging di Ulee Kareng, H-2 Idul Adha tahun ini


Sewaktu kecil, yang terbetik di benak saya terkait datangnya hari raya hanya dua hal: Baju lebaran dan makan-makan. Betapa tidak, kami di kampung selalu antusias menyambut hari raya. Seminggu menjelang hari raya, Mak dan Kakak sudah sibuk menumbuk tepung, membuat kue. Ada macam-macam: Dodol, Meuseukat, Keukarah, Preet, Samaloyang, Peyek dan sebagainya. Seminggu sebelum itu, sudah dibelikan baju baru, untuk kukenakan di pagi hari raya, tentunya. 

Pada H-1 Idul Fitri, maupun Idul Adha, saya dilarang keluar rumah sebelum selesai makan siang. Dilarang bermain ke rumah tetangga, meski ke rumah saudara dekat sekali pun. Semua anggota keluarga harus makan di rumah. Bahkan, di keluargaku, ketentuan seperti ini masih berlangsung hingga sekarang. Sebab ada tradisi makan daging lembu pada H-1 atau H-2 hari raya di daerah kami, yakni Aceh. Tradisi ini dikenal dengan istilah Meugang.

Ingatku, setiap tiba hari Meugang, (Allahyarham) Bapak selalu berangkat ke pasar awal-awal, saat subuh belum benar-benar hilang, saat mahatari belum seberapa terang, nyaris sebelum saya bangun. Dengan menunggang ontel Religh kesayangannya, beliau menuju ke pasar guna membeli beberapa kilo daging. Sebelum siang, daging-daging itu sudah siap dimasak oleh Mak. Ada Sie Reuboh -menu kesukaan keluarga kami-, Sie Asam Keu-Eung, Sie Tu-om, Reundang Aceh, Rendang Padang, bahkan Sup, beraneka macam. 


Sie Asam Keu-Eung. (atau lebih dikenal dengan sebutan Kuwah Beulangong


Saya pernah mendengar, kabarnya, tradisi Meugang ini pada mulanya diselenggarakan oleh Kerajaan Aceh, pada masa kedikjayaan Sultan Iskandar Muda. Meugang dari kata Makmue Gang (kemakmuran di setiap lorong). Kerajaan menetapkan, agar dalam setahun dua kali, seluruh rakyat Aceh bersuka cita; orang kaya maupun miskin menikmati menu makanan mewah yang sama, yakni olahan daging.

Saya sempat bertanya-tanya, kenapa sampai segitunya; anak-anak tidak diizinkan keluar rumah sebelum makan, tidak dibolehkan kelayapan. Ternyata, sesungguhnya itu untuk menjaga kehormatan orang tua. Memalukan bila seorang laki-laki -kepala keluarga- tidak sanggup membawa pulang daging ke rumahnya pada hari Meugang. Sementara dia telah menghabiskan waktu sepanjang tahun untuk bekerja mengumpulkan uang. Dilatari berbagai macam profesinya.

Lain dari pada itu, masyarakat Aceh tradisional sangat menyakralkan Tradisi Meugang. Konon, katanya, arwah orang-orang yang telah tiada akan iba bila anak-anak mereka makan daging di rumah orang lain, pada hari Meugang. Makanya, tidak hanya kepala keluarga, bahkan bagi para wali yang mengemban tanggung jawab terhadap janda maupun anak yatim, mereka harus menafkahi daging Meugang kepada yang ditanggung olehnya. Saya rasa ini kearifan lokal yang diyakini secara turun temurun.

Di hari Meugang, tidak hanya Bapak saya, bahkan seluruh bapak-bapak di kampung saya, semuanya membeli daging. Bahkan, seorang Linto Baro (penganti baru, mempelai pria), ia juga diharuskan membawa pulang daging Meugang ke rumah mertuanya. Jika tidak, meskipun sama-sama ridha dengan mertua, tetap saja menjadi buah bibir di masyarakat. Bila ketahuan tidak membeli daging Meugang, ia akan jadi bahan omongan. Tradisi ini sangat kental, oleh karenanya, tidak boleh kita tinggalkan.

Membawa pulang daging untuk dimasak pada hari Meugang adalah kehormatan bagi seorang Agam (red: laki-laki). Mereka tidak akan mengeluh, meski harga daging melambung jauh dari harga lauk biasa saban harinya. Sebab harga itu tak seberapa, mengingat kita telah bekerja sepanjang tahun, tak ada salahnya sehari saja memeriahkan dapur keluarga. Tentu saja tradisi ini tidak berlebihan.



Sie Reuboh. Menu ini pasti ada di dapur rumah kami, setiap Meugang. 


Saya teringat lagi suatu kala, saat itu saya masih di bangku kuliah. Seorang dosen kami asal Belitung mengancungkan jempolnya untuk warga Aceh. Katanya,

"Saya bangga pada orang Aceh. Benar-benar kalian ini bangsa yang kaya."

Statement itu bukan tak beralasan. Ceritanya, saat beliau pulang ke Belitung, orang-orang di rumahnya merapal repetan, terkait harga daging mulai naik di pasaran. Hanya kisaran Rp. 60.000,-an/ Kilogram. Sedangkan di Aceh, harga daging sudah mencapai angka Rp. 90.000,-/ Kilogram, pada waktu itu. 

"Saya bilang ke Ibu saya: Orang Aceh membeli daging hingga dua-tiga kilogram, tapi wajahnya tetap tersenyum saat pulang." Ujarnya kepada kami, mengilas kembali kenangan saat beliau menenangkan repetan orang-orang di rumahnya.

Luar biasa sekali, bukan? Bahkan orang-orang di luar Aceh saja sudah mengungkapkan ketakjubannya pada tradisi kita.

Lain dari pada itu, ada juga beberapa keluarga yang membeli daging ayam, sebab tidak boleh mengkonsumsi daging sapi. Entah karena kadar kolesterolnya tinggi, tidak suka, atau alasan lainnya yang lebih kepada pertimbangan selera dan kesehatan. Saya, dan siapa pun lainnya, tentu tidak kebaratan dengan hal ini. Hanya saja, bila ada orang yang menolak membeli daging karena mengingat harganya yang mahal, saya berani meneriakinya “Pecundang!”

Tradisi Meugang ini sudah ada bahkan sebelum kita ada. Lalu, dengan alibi finansial, tentu kita tidak ingin menghapusnya pelan-pelan, bukan? Nenek moyang dulu tidak hidup semewah kita sekarang. Mereka juga penuh perjuangan. Tapi, tetap kuat menjaga tradisi. Tak membiarkan Meugang hilang. Saya yakin kita juga akan terus merawat tradisi ini, sebagai warisan untuk generasi mendatang.

Ada satu Hadih Maja yang kentara di masyarakat Aceh, terkait tradisi:

"Mate aneuk, meupat jirat,
Gadeuh adat, pat tamita?"

(Bila seorang anak meninggal dunia, kita tahu kuburannya, 
namun jika adat hilang, kemana kita akan mencarinya).


Ngomong-ngomong, sekarang Aceh sedang mengikuti Kompetisi Wisata Halal Nasional 2016
Ayuk, klik di sini untuk menyatakan  Dukungan Anda terhadap Wisata Halal Aceh




2 komentar

Baca tulisan ini, langsung kangen kampung halaman., utamanya masa kecil dulu, di mana Bapak beli daging meugangnya berkilo-kilo, dan kebagian tugas menjaga daging yang dijemur agar tidak digondol kucing. Duh, indahnya masa itu, tradisi yang satu ini memang layak lestari. Kalo bukan kita, siapa lagi? Yuk, lestarikan tradisi meugang. :)

Reply

Aduh, Kak Al. Baru menyadari komentar ini belum terbalas. Iya, kakak. Tradisi meugang memang harus dilestarikan. Ini tidak boleh hilang, apalagi kalau hanya karena pertimbangan tingginya harga daging. Kan gitu kan ya. Hehehe

Reply

Posting Komentar