Ayah, Ibu, Anak dan Lingkungan

Ilustrasi

Tadi siang, selepas shalat zuhur saya berangkat ke Rumcay Flp Aceh, ada agenda rapat kepengurusan. Kira-kira berjarak dua kilometer dari rumah, di jalan, saya dihadapkan dengan seseorang yang tak wajar. Bukan dia-nya yang tak wajar, tapi keadaan. Walhal, seorang balita berusia belasan bulan (taksiran saya, barangkali dia baru genap setahun) dengan tertatih-tatih menguasai jalan di mana saya berkendara. Seorang saja. 

Saat itu jarak kami sudah dekat. Saya sadar betul, balita itu pasti keluar dari pintu gerbang rumah yang jaraknya tak jauh dari tempat kami berjumpa. Balita malang itu terus saja berjalan ke arah saya, dengan tangannya menunjuk ke depan, seakan penuh harap, seseorang di ujung jalan sana mendengar seruannya. Saya tidak tahu persis siapa orang itu, yang jelas dia telah jauh berlalu. Saya hanya bisa melihat sisi punggungnya, dari gerak-gerik dapat dipastikan itu seorang laki-laki.

Saya menepi, menghentikan kendaraan. Sedangkan ia kini berada tepat di tengah jalan. Syukurlah ini jam istirahat siang, jalanan lengang, sepi sekali kendaraan yang lalu lalang. 

Ilustrasi. Diperagakan oleh model

"Ho meujak, Neuk? (mau ke mana, Nak?)" Tanya saya, sambil meraih bahunya. Ingin mengangkat badannya untuk saya gendong. Dia seperti hendak menangis.

Anak itu menjawab gagu-gagap, memang belum pandai berbahasa. Bunyi yang kusimak dari buka-tutup mulutnya hanya, "Yah! Ayah!" Sembari mengelus-elus kepalanya, saya terus saja mengajak bicara, nada panik, dengan harapan agar terdengar ke rumahnya. 

"Allah.. Aneuk loen!" 

Seseorang melongok dari balik pagar besi. Sejurus berlari kencang ke arah kami berdua. Bola matanya berkaca-kaca. Terlihat para penghuni rumah itu berhamburan ke jalan. Wajah penuh kecemasan. Ia menyesali ketidaksadarannya, bahwa anak itu telah berada di tengah jalan. Dia sangat terkejut. Tergopoh-gopoh lari seperti orang yang ingin menyelamatkan diri dari putus asa.

Ibu itu mendekap anaknya erat. Saya hanya senyum, diam, kemudian berlalu. Terlihat matanya menakung butiran bening yang sebentar lagi akan jatuh. Jauh lebih dalam dari pada itu, saya yakin, dalam relung hatinya menangis sedan, penuh penyesalan. Setelah itu, sepanjang jalan saya berpikir, siapa yang akan kusalahkan atas keadaan yang menimpa anak itu. Ayahnya yang abai, atau ibunya yang lalai? 

Tidak, tak patut saya mencari-cari siapa di antara dua orang itu yang bersalah atas keadaan semacam ini. Sebab, saya tahu sebenarnya, yang bersalah bukanlah mereka berdua, tapi keadaan. Keadaan yang menjadikan Si Ayah tidak menoleh ke belakang, sebab tidak tahu anak itu mengikutinya. Si Ibu tidak menyadari entah kapan anak itu telah berlalu darinya. Saya lah, yang kebetulan ada di sana, adalah penanggung jawab atas keadaan ini. Kali ini keadaan itu menimpa mereka. Bukan tak mungkin, esok atau lusa justru menimpa saya.

Kita mengakui bahwa manusia adalah makhluk sosial. Hubungan interaksi terus terjalin sepanjang siklus hidup tetap berlanjut. Akan terjadi hal baik atau buruk, dan kita terlibat di dalamnya. Kita semua adalah pelakonnya. Pengawasan pertama memang terletak pada orangtua, dalam hal ini Ibu dan Ayah. Terlepas dari keduanya, kita adalah bagian dari lingkungan. Sebagai lingkungan, kita mengambil tanggung jawab social control. 

Lingkungan bertanggung jawab atas seseorang, saat seorang tidak bersama kedua orang tuanya. Ini berlaku dalam keadaan apa pun. Tidak hanya pada balita, namun juga pada gadis bahkan janda, saat mereka "tersesat" di jalan." watawa shaubil haq, watawa shaubish-shabr.

Harap membaca sekali lagi paragraf terakhir di atas. Semoga ending dari status ini mudah dipahami, ke mana arahnya. Itu!


2 komentar

Nyoe nyang neuceurita sesaat sigohlom rapatnya kan...

Reply

Yap. tepat sekali, Adek. :)

Reply

Posting Komentar