Meuseuraya. Masyarakat Babah Jurong bersama Mapesa.

Masyarakat Babah Jurong

Satu dan lain hal membuat saya tidak begitu aktif di Facebook dalam beberapa minggu belakangan. Harus saya akui, banyak sekali informasi yang terlambat saya ketahui. Seumpama surat kabar, Facebook berperan penting bagi saya, untuk memeroleh informasi mengenai hal-hal yang terjadi di sekitar, saban hari. Tidak mengakses social media menyebabkan saya ketinggalan berita. Salah satunya, kegiatan Meuseuraya di Gampong Babah Jurong. 

Meuseuraya ialah istilah lokal untuk kegiatan gotong royong. Dalam Hal ini, Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) kerap sekali melakukan meuseuraya, guna menyelamatkan situs-situs sumber sejarah baku, yang sering diabaikan oleh masyarakat pada umumnya. Kali ini, Mapesa melakukan gotong royong untuk membersihkan area pemakaman bersejarah di Gampong Babah Jurong. Menata kembali nisan-nisan yang mengandung banyak informasi mengenai zaman di mana mereka berasal. 
Team Mapesa sedang menata kembali  nisan yang tumbang di Babah Jurong

Walhal, Gampong Babah Jurong bersebelahan dengan Gampong Lambaed - daerah kediaman saya. Sayang sekali, saya mengetahui kegiatan meuseuraya di sana, dua minggu setelah acaranya usai. Kalau saja saya tahu lebih awal, tentu saya berniat untuk hadir juga. Setidaknya, keterlibatan kita merupakan bukti nyata bahwa kita mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh teman-teman Mapesa. Bukti bahwa team Mapesa tidak berjuang sendiri.

Sebagai penebus kealpaan, saya berusaha mengumpulkan informasi untuk ditulis, terkait kegiatan meuseuraya di Gampong Babah Jurong. Sebagaimana anjuran sekjen Mapesa (Ayi AL Yusri), saya menghubungi Ketua Mapesa (Mizuar Mahdi Al – Asyi), untuk memeroleh beberapa keterangan. Beruntungnya beliau sangat antusias berbagi informasi.

Bapak Hasballah. Pemilik lahan pemakaman bersejarah di Cot Peutano. Beliau juga Kadus di Babah Jurong

Berdasarkan keterangan dari ketua Mapesa, kegiatan meuseuraya di Gampong Babah Jurong ini berawal dari kegiatan meuseuraya di Gampong Cot Peutano. Saat itu, Sekjen Mapesa hendak mengurus surat izin untuk meuseuraya di sana. Ternyata, pemilik lahan pemakaman di Cot Peutano merupakan salah seorang Kepada Dusun di Gampong Babah Jurong. Beliaulah yang mengabarkan bahwa masih ada komplek pemakaman yang lebih luas dan tak terurus lainnya, di Gampong Babah Jurong. 

Setelah mendapatkan kabar dari Kadus tersebut, keesokan harinya Sekjen Mapesa bersama Ketua Mapesa melakukan observasi ke lapangan, untuk memastikan keberadaan area pemakaman tersebut. Pada 16 Oktober, team Mapesa melakukan meuseuraya di Gampong Cot Peutano. Setelah shalat zuhur, saat meuseuraya di Gampong Cot Peutano selesai, dilanjutkan di Gampong Babah Jurong yang bersebelahan dengan Cot Peutano. Keadaan saat itu tengah hujan. Meuseuraya dilakukan hingga jam 17:30, petang. 

Kondisi nisan yang tumbang.

Area pemakaman bersejarah Di Gampong Babah Jurong ini sangat memerihatinkan. Nyaris semua nisannya telah tumbang. Pepohonan rindang dan semak belukar menjadikan area pekuburan ini tak ubahnya rimba. Berdasarkan keterangan dari warga, bahkan tempat ini telah menjadi sarang babi. Di malam hari, ada belasan babi mendiami tempat ini. Angkanya bisa sampai 15 ekor, agaknya. 

Masyarakat setempat tidak ada yang berani memasuki area pemakaman ini. Selain karena keadaannya sudah menjadi hutan belantara, juga ada kepercayaan (mitos-mitos) yang berkembang, bahwa berbagai macam hal akan terjadi bila memasuki area pemakaman ini. Oleh karena itu, kebanyakan mereka hanya menyaksikan saja kegiatan team Mapesa, tidak ingin terlibat. Hanya dua orang yang ikut serta membantu kegiatan ini.

Kondisi area pemakaman yang telah rusak parah, hingga tidak bisa diselesaikan dalam satu hari, oleh karena itu dilakukan meuseuraya lanjutan di Gampong Babah Jurong, pada tanggal 23 Oktober. Kali ini disambut lebih hangat oleh masyarakat. Dimulai dengan membaca doa bersama, yang dipimpin oleh Teungku Gampong Babah Jurong. Kemudian menikmati kenduri bersama, yakni makan Bu Leukat (ketan) yang dimasak oleh masyarakat setempat. Setelah itu, barulah masyarakat berani memasuki arena pemakaman ini. 
Doa bersama sebelum memulai kegiatan, diiringi dengan makan ketan.

Meuseuraya dilakukan bersama-sama, hingga selesai siang hari. Berdasarkan inskipsi yang tertera pada nisan, dapat diketahui bahwa komplek makam tersebut sebagian besar dari abad ke 10 Hijriah, atau 16 Masehi. Pada salah satu nisannya masih dapat dibaca terang, bertuliskan tahun wafatnya tokoh yang dimakamkan, yakni 997 Hijriah, atau 1589 Masehi. Selain itu, pada sebahagian besar nisan yang terdapat di sana, terpahat kalimat "La Ilaha illallah, Muhammadarrasulullah". Hal ini menjadi bukti tertulis, yang menggambarkan keyakinan masyarakat pada waktu itu, kaya akan nilai-nilai ketauhidan.  

Demikianlah sederetan informasi singkat yang saya peroleh dari Ketua Mapesa. Dalam hal ini, terima kasih banyak, Bang Mizuar.

Ketua Mapesa. Mizuar Mahdi Al-Asyi dalam kegiatan meuseuraya di Gampong Babah Jurong

Saya di pihak orang-orang yang meyakini bahwa nisan dapat berbicara. Memang bukan dengan vokal, melainkan dengan nota yang tertera padanya. Tulisan pada nisan merupakan sumber sejarah yang tak dapat dibantahkan. Hanya saja sedikit sekali yang peduli dengan hal ini. Bahkan menganggapnya hal yang sia-sia. Bersama Mapesa, masyarakat Babah Jurong telah menunjukan kepeduliannya, peka pada sejarah.

Lalu, jika ada yang bertanya; 

“Untuk apa kita peduli pada masa lalu?”

Jawablah! “Agar kita tidak dikelabui oleh masa depan.”

Demikian.





Posting Komentar