Sikap Marah-marah Hanya akan Membunuhmu

Artikel ini pernah dimuat di Warta Unsyiah, Edisi 192/ Oktober 2015


Manusia adalah makhluk spesial yang diciptakan oleh Allah. Makhluk dengan bentuk yang paling sempurna, bahkan lebih sempurna dari penciptaan Malaikat. Malaikat hanya ditugaskan untuk patuh pada apa-apa yang ditetapkan, tanpa memiliki ranah ikhtiyar. Oleh karena Malaikat tidak diberi nafsu. Lain pula dengan hewan yang tidak dilengkapi dengan akal, hewan hanya mengandalkan naluri agar lestrari. 

Allah memberikan potensi akal kepada manusia, namun juga menyematkan nafsu padanya. Akal merupakan serangkaian proses berpikir yang terdiri dari empat komponen: fakta, indra, otak dan informasi sebelumya. Fakta yang diamati dengan indra, kemudian disalurkan ke otak dalam bentuk sinyal listrik, kemudian otak menerjemahkan suatu kesimpulan atas apa yang diamati tersebut berdasarkan informasi yang telah diperoleh sebelumnya. 

Adapun fungsi akal yaitu menentukan mana hal yang terbenar untuk dilakukan dan mana yang semestinya ditinggalkan. Akal harus mampu menundukkan nafsu di bawahnya. Akal bertugas mengkaji aturan-aturan yang telah Allah tetapkan, bukan menciptakan aturan-aturan berdasarkan kehendaknya. Satu simpul permasalah besar yang harus dipecahkan oleh akal adalah tentang: dari mana manusia berasal, di kehidupan ini apa yang harus dilakukan, dan akan kemana setelah manusia melewati kematian.

Selain potensi akal, Allah juga memberi kita naluri. Potensi yang tak kalah pentingnya. Naluri pada manusia secara garis besar bisa diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok besar. Pertama, naluri mensucikan sesuatu. Setiap manusia menyadari bahwa dirinya lemah. Sejatinya setiap yang lemah membutuhkan sesuatu yang kuat sebagai tempat bersandar, bergantung. Sesuatu yang lebih besar itu kemudian diagungkan, disucikan, dan disembah. Inilah naluri yang menjadikan setiap orang butuh beragama. Bahkan atheis, meskipun mereka mengingkari tuhan, namun mereka menjadikan Karl Marx, Lenin, dan Stelin sebagai sosok yang diagungkan. 

Kedua, naluri mencintai. Ikatan kasih sayang yang terbentuk baik antara ibu dengan anak, suami dengan istri, guru dengan murid, sesama sahabat, rekan dan handai taulan merupakan perwujudan dari naluri mencintai. Naluri inilah yang menjadikan manusia lestari. Menikah, mengayomi, rasa kemanusian, saling tolong menolong merupakan bentuk dari naluri mencintai. 

Ketiga, naluri mempertahankan eksistensi diri. Ini adalah puncak terjadinya permasalahan dalam masyarakat. Setiap manusia memiliki potensi untuk senantiasa menunjukkan kemampuannya. Kecenderungan ingin dihargai, disanjung, mendapatkan kekuasaan di atas yang lainnya. Tidak jarang terjadinya perpecahan dalam sebuah lembaga karena tarik ulur kepentingan, egoisme dan rasa igin menang sendiri.

Ketiga naluri di atas harus bisa tunduk di bawah akal, yakni dengan kembali kepada tuntunan yang telah Allah tetapkan, teladan yang telah dibawa oleh Rasulullah. Menyembah dengan cara yang benar. Mencintai dengan cara yang benar. Dan mengelola amarah juga dengan cara yang benar. 

Terkait amarah, harus diakui ini perkara yang lebih rumit dari kedua hal lainnya. amarah merupakan pangkal dari segala masalah. Sombong, tinggi hati, membanggakan diri, menghina orang lain, suka perdebatan, melakukan perkara-perkara yang sebenarnya tidak bermanfaat, ambisi untuk harta, kedudukan yang lebih, dan lain-lain.

Seorang muslim dianjurkan untuk menjauhi akhlak-akhlak yang tercela dan mendidik dirinya dengan akhlak-akhlak yang mulia. Melatih jiwa dengan akhlak yang terpuji: sabar, lemah lembut, tidak tergesa-gesa dalam segala hal, tidak mudah marah. Rasulullah saw. berkali-kali mengingatkan bahwa kita harus mampu menahan diri dari marah. Sebab marah itu dapat mengundang kemurkaan Allah.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Sa’id bin Musayyab menyatakan, "Pernah suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya, lalu ada seorang laki-laki yang mencaci dan menyakiti Abu Bakar, tetapi Abu Bakar diam saja. Kemudian ia menyakitinya yang kedua kali, tetapi Abu Bakar masih diam saja. Lalu ia menyakitinya yang ketiga kali, lalu Abu Bakar membalasnya. Maka Rasulullah saw. berdiri ketika Abu Bakar membalasnya, lalu Abu Bakar bertanya, 

"Apakah engkau marah kepadaku, wahai Rasulullah?" Rasulullah saw. bersabda, "Tadi Malaikat turun dari langit seraya mendustakan apa yang ia katakan terhadapmu, tetapi setelah engkau membalasnya, setan lalu duduk di situ, maka tidaklah pantas aku duduk karena setan duduk di situ."

Dalam riwayat lainnya, suatu ketika, saat kaum muslimin dilanda krisis pangan, Rasulullah berhutang 20 zak gandum pada seorang musyrikin yang bernama Zaid bin Sa’nah, untuk dibagikan kepada kaum muslimin. Zaid bin Sa’nah mendatangi baginda untuk menagih hutang padahal kala itu belum jatuh tempo. Sikapnya sangat kasar. Dia menghina Rasulullah dengan menyebutkan leluhur. 

“Wahai Muhammad, engkau ini keturunan bani Muthalib. Sudah terkenal bahwa bani kalian itu adalah golongan yang selalu terlambat membayar hutang.” Hardiknya.

Melihat keadaan ini, Umar bin Khatab yang saat itu tengah berada di sisi Rasulullah dilanda marah. Ia sangat berang melihat Zaid. Katanya, 

“Jika bukan karena aku khawatir kepada masalah yang lebih besar, sungguh akan aku pisahkan kepalamu dengan badan. Berani-beraninya engkau bicara begitu kepada Rasulullah,” Tegas Umar kepada Zaid. 

Sementara Rasululah, tidak ada sedikit pun rona amarah di wajahnya. Baginda menghadapinya dengan senyum dan sabar. Bahkan, dalam hal ini Rasulullah justru menegur Umar atas tindakannya menghardik laki-laki tersebu. Rasulullah berkata: “Hai Umar, aku dan dia tidak membutuhkan sikap seperti itu. Lebih baik engkau menyuruhku melunasi hutangku dan menyuruhnya menagih hutang dengan baik.” 

Setelah itu, beliau melunasi hutangnya, sebanyak 20 zak dan ditambah lagi 20 zak sebagai imbalan atas gertakan yang dilakukan oleh Umar. Akhirnya sikap Rasulullah saw. ini menjadi penyebab Zaid bin Sa’nah memeluk islam.

Seorang muslim hendaklah memiliki akhlak yang terpuji, berhias dengan kesabaran dan rasa malu, berpakaian tawadlu’ dan sayang kepada sesama. Dalam dirinya terpancar tanda-tanda keberanian, mampu menahan segala beban, berusaha untuk tidak mencelakai orang lain, pemaaf, penuh kesabaran dan mampu menahan emosi. Wajahnya senantiasa berseri-seri dalam keadaan apa pun. Maka dari itu, jangan marah!

Setiap manusia dianugrai potensi yang sama. Semestinya sama-sama bisa mengelola potensinya dengan cara yang benar, sebab setiap manusia sama-sama diberi akal. Harus kita akui, tak ada manusia yang luput dari dosa. Adakalanya Allah lenakan kita sejenak dalam maksiat, agar kita rasakan manisnya taubat. Melakukan kesalahan adalah tabiat, maka kembali kepada kebenaran adalah tuntutan syari’at. Sebagaimana yang tersurat dalam firman Allah,

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafqahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [QS. Ali 'Imran : 133 - 134]



2 komentar

Katanya sih cepat tua padahal umur gk bisa distop kan hehehe

Reply

Bener banget paparanya, makasih ya sharinya

Blogwalking and followback ya www.mltazam.com

Reply

Posting Komentar