Urgensitas Orangtua Sadar Pendidikan (Opini)

Opini saya yang dimuat oleh Warta Kota

Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Dian Sastro, bahwa: "Entah ingin menjadi wanita karir atau hanya Ibu rumah tangga, yang jelas, seorang wanita harus pintar. Sebab ia akan berperan menjadi guru pertama bagi anak-anaknya." Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan dalam agama, bahwa: "Al-ummu madrasatul ula (Ibu adalah sekolah pertama). 

Namun demikian, bukan berarti semua tanggung jawab pendidikan terhadap anak dipundakkan pada Ibu. Itu keliru. Setidaknya ada tiga komponen yang berperan dalam hal ini. Penanggung jawab atas pendidikan anak adalah: Ayah, Ibu dan lingkungan. 

Di kampung, saya melihat banyak hal-hal yang tabu masih kental dianggap tabu. Tidak serta-merta dijadikan layak. Perubahan zaman tidak menjadikan orang tua berubah standar. Tetap saja anak gadis dilarang berkeliaran di luar rumah setelah magrib, kecuali atas alasan yang mendesak ('udhor). Demikian juga dengan lingkungan, masih kentara dengan kontrol sosial. 

Masyarakat masih peduli jika ada ketidakwajaran yang terjadi, semisal interaksi non mahram. Melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma dan agama, seperti berpacaran dan sejenisnya akan menjadi buah bibir di masyarakat. Seorang laki-laki berkeliaran dengan mengenakan celana pendek (di atas lutut) dipandang sinis oleh masyarakat. Saya menganggap hal ini pantas dan penting, masyarakat berperan sebagai social control.

Di lain sisi, bukannya saya tidak memihak pada lingkungan kota. Diakui atau tidak, di lingkungan kota, peran orang tua harus jauh lebih besar, sebab lingkungan kerap sekali acuh. Barangkali sebagaimana yang saya sampaikan tadi, perubahan zaman mengakibatkan terjadinya perubahan standar. Jika seseorang terlalu fundamental dalam menyikapi agama, kerap sekali dianggap tidak berkembang. Tidak gaul. Makanya, orang tua harus berupaya ekstra untuk mencerdaskan agama kepada anak-anaknya.

Bicara tentang pendidikan, orang tua dan lingkungan kota, saya pernah menulis sebuah opini yang dimuat oleh Warta Kota Banda Aceh. Demikian selengkapnya. 

##

Urgensitas Orangtua Sadar Pendidikan

Pendidikan dasar dimulai dari keluarga. Pembentukan karakter hingga persiapan kedewasaan semua berawal dari ruang lingkup paling sederhana, yakni keluarga. Pendidikan bahkan telah dimulai sejak anak dalam kandungan, lanjut kemudian, dalam buaian. Semua orang tua adalah guru pertama untuk anak-anak mereka. Bagi siapa pun, Madrasah tempat mula-mula mereka menuai ilmu ialah Ayah dan Ibu. 

Sebagaimana yang kita ketahui tentang masyarakat Aceh, bahwa pola hidup dalam keseharian kentara dengan nilai-nilai moral dan agama. Kebiasaan yang telah menjadi budayanya pun tidak terlepas dari esensi syariat Islam. Bahkan, dalam lullaby, mereka menyisipkan ajaran agama bagi anak-anaknya.

Saya ingat betul bagaimana orang tua kita men-doda-idi (senandung pengantar tidur) anak-anaknya, semasa kecil. Mereka mengajak kepada ketauhidan. Syair-syair yang dibacakan berupa seruan untuk menyembah Allah yang Maha Esa, ajakan kepada perjuangan membela agama, sebagaimana halnya Hikayat Prang Sabi. 

Meskipun anak-anak yang mendengarkan senandung ini belum mengerti -sebab masih bayi- dan belum paham bahasa, namun upaya ini bukan tidak berarti sama sekali. Justru ucapan-ucapan penuh makna dari orang tuanya ini tertanam kuat dalam brain storming mereka, yang kelak akan menjadi pangkal pemahamannya, saat beranjak tumbuh menjadi dewasa.

Tidak terhenti sampai di situ, pendidikan terus berlanjut. Sebagai makhluk sosial, tentu saja setiap keluarga membutuhkan keluarga lainnya. Kesatuan interaksi anggota keluarga dalam sebuah lingkungan inilah yang akan membentuk masyarakat. 

Dalam intraksi itu, tiap keluarga tentunya berangkat dari latar belakang yang berbeda, sehingga berbeda pula pola didikannya. Segala kemungkinan bisa terjadi saat orang tua melepaskan anaknya ke lingkungan. Pengaruh pemikiran luar dalam interaksi sosial tentu saja berdampak besar bagi anak. Bisa berupa nilai baik, maupun buruk. Anak-anak juga menyerap pelajaran dari interaksinya dengan lingkungan.

Lingkungan yang baik akan memberi pengaruh baik. Sebaliknya, lingkungan yang buruk akan memberi dampak buruk bagi anak. Oleh karena itu, orangtualah yang bertanggung jawab memilih lingkungan yang layak bagi anak.

Dalam hal ini, harus kita akui, lingkungan kota cenderung rentan terkena pergeseran nilai-nilai norma, mengingat di sana tempat berlangsung interaksi dengan berbagai latar belakang, bahkan dengan para pendatang yang memiliki entitas budaya yang beda. Kota merupakan tempat berkumpulnya banyak orang, beragam suku dan bahasa, serta kebudayaan. Sudah semestinya masyarakat kota ekstra peduli terhadap pendidikan anak, guna menangkal pengaruh bebas.

Tidak heran bila kita mendapati masyarakat kota lebih sadar pendidikan. Banyak orang tua mengisi waktu luang anaknya dengan memberikan pendidikan tambahan, selain sekolah. Beberapa orang tua mendatangkan guru privat ke rumah. Sebagian yang lain mengantarkan anak-anaknya ke tempat kursus belajar. 

Memberikan pendidikan secara terus menerus tentu saja bukan bentuk diskriminan, namun justru upaya untuk mengatasi pengaruh buruk lingkungan. Dari pada mereka dibiarkan bermain ke lingkungan bebas, lebih baik diberi didikan sambil belajar. Dengan demikian, dapat memperoleh dua keuntungan: ilmu dan keceriaan. Bermain sambil belajar di bawah pengawasan guru asuh tentu akan berdampak baik bagi anak.

Tidak hanya mengenai pendidikan formal, bahkan hal yang paling ditekankan bagi anak-anak adalah pendidikan agama. Di Banda Aceh, kita mendapati puluhan Masjid mengadakan program pendidikan agama, baik TPA maupun TPQ. Salah satu di antaranya Masjid Baitush Shalihin, Ulee Kareng. 

Proses belajar dimulai setelah istirahat siang, menjelang sore. Bapak dan ibu antusias mengantar anaknya untuk mengaji. Beberapa kesempatan saya menunaikan shalat Asar di sini. Terlihat ratusan anak-anak sedang mengikuti pendidikan Alquran bersama guru ngajinya. Duduk berlingkar dalam majlis. Anak-anak berbusana muslim, rapi. Di hadapannya rekal terbuka, tempat meletakkan Alquran maupun Iqra. 

Materi pelajaran yang diberikan cukup vairatif, sesuai dengan usia anak. Untuk pemula, terlebih dahulu pengenalan huruf hijaiyah. Apabila telah mumpuni, baru dikenalkan lagi ejaan Arab, baris dan tanda. Setingkat di atasnya diajarkan mengenai tajwid, membetulkan bacaan hingga program tahfiz (menghafal alquran). Selain itu, sebagai pelengkap, juga diselingi pelajaran mengenai tata cara ibadah (fiqh) dan akidah akhlak. Tentu saja ini pemandangan yang sangat menarik.

Tidak hanya di Masjid Shalihin Ulee Kareng, bahkan banyak titik lainnya, diantaranya: TPA di Masjid Raya Baiturrahman. TPA di Masjid Lampineung, TPA di Masjid Lambhuk dan banyak sekali lainnya. Hampir seluruh Masjid mengadakan pendidikan semacam ini. Tenaga pegangajarnya juga dari warga sekitar Kota Banda Aceh. 

Tenaga didik yang andal akan memberikan asupan ilmu yang baik kepada anak-anak. Kunci utama kesuksesan belajar adalah guru, baik itu orang tua maupun guru di sekolah, serta guru di tempat pengajian. Dalam hal ini, kita tahu bahwa Aceh mempunyai banyak pemuda dan pemudi yang menguasai pendidikan agama. 

Orang tua yang sadar pendidikan tentu saja akan memberikan didikan terbaik kepada anak-anaknya. Dengan pendidikan dari rumah, ditambah lagi pendidikan dari sekolah, dilanjutkan pendidikan di tempat pengajian, kita berharap dapat terwujudnya generasi kota yang unggul. Generasi yang berkualitas. Sebab, sebagaimana yang kita sampaikan di awal, bahwa dasar kebangkitan bangsa dimulai dari keluarga sebagai kelompok masyarakat paling kecil, dan orang tua memegang peran utama.

##

Terima kasih telah mampir. Nikmati juga postingan terkait orang tua dan pendidikan terhadap anak. Saya tulis dalam bahasa lokal: Teks Pidato Cilik dalam Bahasa Aceh: Gaseh Salah Meuphom

2 komentar

Mantap kali dimuat di portal. :)

Reply

Ini di Warta Kota, Dek. Request dari redaksinya. Alhamdulillah :)

Reply

Posting Komentar