Butuh atau Ingin?

Moana the Movie


Dear, Sahabat blogger!

Setelah sekian lama vacum dari menulis di laman pribadi ini, sekarang saya akan memulainya kembali. Sayang sekali rumah ini sudah hampir meujeulabah. Postingan terakhir di sini tentang Pliek U, dan itu sudah tiga bulan yang lalu. Sangat menyedihkan, bukan? Tapi tidak berarti saya benar-benar berhenti menulis selama itu, bukan begitu. Sebenarnya saya sering "lalai" dengan media sosial yang lain. Beberapa di antaranya semoga memengaruhi buku tabungan (Hahaha).

Baiklah, mari kita fokus. Ini tentang membedakan ingin dan butuh. Sering kita mengeluh tentang doa yang tidak dikabulkan. Beberapa kali doa yang kita panjatkan dengan bunyi yang sama, nyatanya belum ada jawaban dari pihak yang kita tujukan doa itu. Nah, bisa jadi, apa-apa yang kita minta bukanlah hal yang kita butuhkan. Hanya saja kita menginginkannya.

Jadi begini, barangkali kita meminta mobil, dengan pendapatan bulanan tidak memadai untuk meng-cover biaya operasional: bensin, service bulanan dan pajak tahunan. Jika pun kita sanggup untuk itu, namun ada hal lain yang harus didahulukan, misalnya; Tuhan mengehedaki kita untuk fokus membangun rumah. Maka, Allah menunda mengabulkan permintaan kita untuk memiliki mobil. Syukuri saja sepeda motor, lebih irit pengeluaran. Jika sesekali butuh mobil, sangat urgen, kita bisa menyewanya. Jasa rental sekarang tersedia di mana-mana.

Antara butuh dan ingin, itu dua hal yang berbeda signifikan. Kita butuh makan; kita ingin makan. Mari saya jabarkan lebih rinci. Sehari kita butuh makan tiga kali. Sekali makan, satu porsi. Nasi sepiring, plus dua potong lauk, sayur, segelas air putih, atau jus boleh juga. Kenyang sekali, bukan? Lalu, karena ingin, kita akhirnya membeli satu cup es krim, ngopi, roti, dan buah potong juga. Itu ingin, saudara-saudara.

Selain itu, tentang pakaian, juga demikian. Seseorang mengenakan dua atau tiga set pakaian sehari, standarnya begitu. Bahkan ada yang satu pasang dipakai dari pagi sampai malam. Katakanlah kita harus memiliki empat belas helai pakaian, untuk dipakai selama seminggu (tujuh hari). Nyatanya, setiap kita nyaris memiliki satu lemari berisikan baju, penuh. Tak teringat berapa jumlah helainya, tidak mudah dikira karena memang banyak. Benar demikian? Coba sekarang ingat-ingat, berapa helai kerudung sahabat, berapa lembar baju, berapa potong rok? Terusan/gamis/jubah, ada? 

Selanjutnya, sandal. Baik, kita butuh sepatu, untuk ke kampus, ke sekolah, ke kantor. Sebenarnya kita hanya butuh satu sepatu. Baiklah, dua saja. Satu sepatu high hels untuk acara resmi, satu lagi sepatu biasa saja. Tapi, nyatanya, berapa pasang sepatu kita di rak? Kita ingin sepatu dengan warna yang seragam dengan tas dan baju. Nah, tas kita ada berapa pcs? Nyatanya kita hanya butuh satu atau dua, kan? 

Kita ingin tampil maching. Ingin, bukan butuh. Seringnya, yang membuat kita tertekan, tidak bahagia, gelisah adalah banyaknya keinginan. Ingin ini dan itu, di luar kebutuhan. Jika ingin mengurangi tekanan hidup, mulai sekarang, perkecil ruang ingin. Fokus terhadap butuh. Sepakat, sahabat?

Anyway, mohon maaf untuk gambar yang tidak mach dengan konten postingan. Saya rasa itu tidak begitu penting. Hehehehe

10 komentar

Benar ya, kadang keinginan itu melebihi isi dompet kita, padahal yang kita inginkan tidak semua dibutuhkan. Terima kasih sudah mengingatkan hal ini kak!

Reply

Hehehe.. Bnr bnr..

Dan postingan ini ngingatin aku dengan bbrapa kalimat di buku "reclain your heart", tp nanti lah aku komen lagi.. Karena kalimat pastinya aku lupa *plak ����

Reply

Tepat!
acap kali, apa yang kita inginkan bukan lah sesuatu yang sedang kita butuhkan.

Poinnya adalah selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini.

Reply

ho'oh betul kak. sekarang harus fokus pada kebutuhan. termasuk butuh...*tet-tet*

Hahhaha

Reply

Sama-sama, Dek Yell santik manis.
Share is care. Intinya, save our dompet! ;)

Reply

Hayyo! nanti kalau dah ingat, aku tagih ya, kalimat-kalimat itu, Hahaha

Reply

You are very true, Aula
Tetap bersabar dan bersyukur.. :)

Reply

Nyan, Tyna. Yang disensor itu pasti sensasional kan. hahahaha

Reply

tulisan kak aini memang meneduhkan, selalu adem dibaca.:)
justru gambarnya ni yang bikin penasaran.
Barakallah kak aini,selamat berbahagia bersama ..., hehe

Reply

Hehehe.. Terima kasih banyak, Dora
Sama-sama bebahagialah kita.
hehe
Aamiin.. *Love love

Reply

Posting Komentar