Resume pengajian di DPD PERTI: 6 Hak dan Kewajiban Muslim terhadap Muslim Lainnya

ilustrasi; kitab jawi

Sabtu/ 03 Juni 2017, saya dan Husnul mengikuti pengajian yang diadakan oleh dewan pengurus PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) Aceh di Kantor DPD PERTI. Saya mendapat undangan pengajian ini dari Ibu Nur Aini selaku ketua Wanita Perti Aceh, sehari sebelumnya. 

Setiba di sana, kebetulan pengajiannya belum mulai. Saya mengambil tempat yang telah disediakan. Ruangannya lumayan luas, kira-kira bisa menampung 50-an orang. Sayangnya, yang datang hanya setengahnya saja. As we know-lah, bahwa tempat-tempat pengajian memang cenderung sunyi dibandingkan pasar malam. Ini sudah takdir akhir zaman.

Baiklah, kita bahas mengenai pengajian saja. Narasumber yang bertindak sebagai pengisi materi hari ini adalah Tengku Haji Muhammad Ya'qub, yakni Ketua Mahkamah Syar'iyah Kab. Aceh Tengah, saat ini. Saya sendiri telah mengenalnya secara personal. Di Gampong, beliau kerap disapa "Abi."

Kitab Bulughul Maram, karangan Al Hafiz Syeh Ibnu Hajar menjadi referensi pengajian hari ini, pada bagian akhir, ada bab fadhailul 'ibadah, nah, di situ lah pembahasan mengenai 6 hak dan kewajiban seorang muslim terhadap muslim lain, dibicarakan. Kita mengaji tentang itu, sekarang.

Kita uraikan terlebih dahulu mengenai hak dan kewajiban. Dapat dipahami bahwa, ketika seseorang melaksanakan kewajiban yang dibebankan padanya, maka secara langsung hak seorang lainnya tertunaikan. Demikian pula sebaliknya; saat seseorang mendapatkan haknya, itu berarti ada seseorang yang telah menuntaskan kewajiban. 

Adapun 6 hak dan kewajiban muslim terhadap muslim lainnya, sebagaimana disampaikan dalam sabda Rasulullah, yakni: "Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam: (1) Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkan salam, dan (2) jika dia mengundangmu maka datangilah, (3) jika dia minta nasihat kepadamu berilah nasihat, (4) jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah maka balaslah (dengan doa: Yarhamukallah), (5) jika dia sakit maka kunjungilah, dan (6) jika dia meninggal maka antarkanlah (jenazahnya ke kuburan).” (HR. Muslim).


Pertama, mengucapkan salam

Bila kita berjumpa dengan seseorang, kita mengetahui bahwa dia adalah muslim, maka ucapkanlah salam. Sebab salam itu merupakan doa bagi keselamatan dan kesejahteraan seseorang. Sesama muslim kita bersaudara, bahkan dengan persaudaraan yang sangat akrab, "kal-jasadil-wahid (bagaikan satu tubuh)" sabda Rasulullah, maka sudah sepatutnya kita saling memberikan doa keselamatan.

Lalu, seorang di antara jama'ah bertanya kepada Abi; "Bagaimana jika terhadap non muslim, apakah terbenar jika kita memberi salam kepada mereka?"

"Tidak!" Jawab Abi. Kita tidak dibenarkan memberi salam kepada non muslim, melainkan mendoakannya agar memeroleh hidayah untuk beriman kepada Allah. Demikian pula halnya, jika mereka memberi salam, tak perlu dibalas salam, setidaknya ucapkan saja "wa'alaikum," atau sekadar senyum. Jangan pula bermasam muka, itu tidak dibenarkan dalam Islam.

Meskipun menjawab salam hukumnya wajib, itu tertentu kepada saudara kita sesama muslim. 

Kata "assalamu 'alaikum (semoga keselamatan atas kalian) dijawab dengan "wa'alaikum salam, (dan atas kalian keselamatan)" maknanya sama. Hanya saja, dalam kajian linguistik bahasa Arab dijelaskan bahwa terdapat pengaruh lebih besar dengan meletakkan kata 'alaikum di awal, baru selanjutnya disusul "salam." Hal ini senada dengan ketentuan syara' bahwa memberi salam hukumnya sunat sedangkan menjawab salam, hukumnya wajib. Demikian ulasan dari Abi.

Lanjut kemudian, Bapak Hasyim, yakni Ketua PERTI Aceh saat ini, juga mengajukan pertanyaan; "Bagaimana ketentuannya dengan ucapan "Selamat pagi"? "Apakah bermakna sama?"

Abi menjawab; jika yang mengucapkannya menakwilkan bahwa ucapan itu merupakan doa, seumpama kalimat sempurnanya; "Semoga keselamatan bagimu pada pagi ini," itu juga baik. Tapi, akan lebih baik, kita budayakan apa-apa yang telah diteladankan oleh Rasulullah. yakni, mengucap "Assalamu a'laikum."

Kedua, jika diundang maka hadirilah

Ini sangat penting, mengingat di Aceh kerap ada undangan jamuan makan, kenduri. Bahkan dalam sehari, seseorang menerima hingga lima undangan makan-makan, sebagaimana halnya pada bulan maulid. Bagaimana kita harus bertindak? Tentu saja harus berupaya untuk memenuhi undanganya, jika sanggup dipenuhi semua, itu lebih baik. Tertentu dengan undangan walimah 'ursy (pesta pernikahan), bahwa kita wajib menghadirinya.

Menghadiri jamuan makan yang tidak diundang hukumnya haram. Maksudnya, jangan pernah berpikir untuk makan siang gratis pada kenduri orang, padahal kita tidak diundang. Siapa tahu, saat tiba di suatu tempat, kebetulan kita lapar, sedangkan di sana sedang ada kenduri, sembarangan saja kita masuk untuk makan, meskipun kita kasih "aplop" juga, tetap tidak dibenarkan, sebab tidak mengantongi izin dari tuan rumah. Lain halnya jika kita berani berjumpa dengan tuan rumah, lalu mengkonfirmasi bahwa kita ingin makan. Tapi, rasanya itu tak akan terjadi. (Gengsi kali lah kita, kan? Hehehe)

Ketiga, jika dia minta nasehat maka berilah

Ini juga tak kalah penting. Ketika seseorang meminta agar kita memberikan sedikit nasehat, maka berikanlah. Sesungguhnya Rasulullah dahulunya juga demikian terhadap para sahabat, sering memberi nasehat. Bahkan, islam dikenal sebagai agama nasehat. "Ad-dinu nasihah" (agama ialah nasehat). Jika diminta untuk mengisi acara, menjadi narasumber pada sebuah kajian, memberikan tausiah singkat, bahkan dalam urusan dunia pun demikian. Jika dimintai nasehat maka berikanlah. Hanya saja, kita juga harus pandai menakar diri. Jika kita bukan bidangnya dan tidak memahami perkara yang dimintai nasehat, alangkah lebih baik untuk merekomendasikan seorang yang lain, bukan memberi nasehat sembarangan ala kita. Hehehe

Keempat, jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah maka balaslah

Ketika bersin, kemudian seseorang mengucap;
"Alhamdulillah!"
Maka jawablah dengan;
"Yarhamukallah!"
Kemudian dia membalas lagi,
"Yahdikumullah"
Maka jawablah;
"Wayuslihu baalakum"

Jika seseorang yang bersin tidak mengucapkan hamdallah, maka tidak perlu dijawab demikian. Di sini timbul sedikit guyonan saat salah seorang jama'ah bertanya kepada Abi, "Kenapa hanya bersin yang dididoakan, sedangkan buang angin (read: kent*t) tidak?" Semua jamaah tertawa.

Kelima, jika dia sakit maka kunjungilah

Saat sabahat dan keluarga kita sakit, hendaklah kita berkunjung untuk mendoakan kesembuhan atasnya. Jika kita memiliki kesanggupan, membawa buahan dan sedekah juga dianjurkan, guna meringankan beban si penderita sakit. Jangan sekali-kali berkunjung ke tempat orang sakit dengan membawa masalah yang dapat memperburuk keadaannya. Misal, kita bilang ke dia, "Kemarin, teman aku yang sakitnya kayak kamu ini, sudah meninggal". Itu celaka sekali. Alih-alih kita datang untuk meringankan rasa sakitnya, malah dapat memperburuk jiwa seseorang yang sedang sakit.

Keenam, jika dia meninggal maka antarkanlah jenazahnya ke kubur.

Allah Ta'ala memuliakan jenazah seorang manusia dengan menganjurkan saudara yang ditinggalkan untuk mengangkatnya dengan bahu mereka hingga sampai ke kubur. Sangat besar pahala yang diberikan oleh Allah atas kebajikan ini. Menziarahi kematian dapat memberikan nilai ruhiyah tersendiri. Kita bisa menjadikannya pelajaran agar lebih giat beribadah kepada Allah, karena teringat bahwa kematian mengintai kita. Tidak ada yang tahu kapan dirinya akan tutup usia. Selain itu, mengantar jenazah akan memalingkan hati kita dari mencintai dunia. Kita akan lebih berpikir untuk akhirat, sebab menyadari bahwa perbendaharaan dunia ini semuanya kita tinggalkan, sedangkan kita hanya "pulang" kepada-Nya berbungkuskan kain kafan.

Demikianlah ulasan singkat mengenai 6 hak dan kewajiban muslim terhadap muslim lainnya. Semoga bermanfaat. Sekadar informasi, esok, 10 Mei 2017, juga diadakan pengajian serupa, dengan narasumber berbeda, di tempat yang sama, yakni kantor DPD PERTI, (belakang Hotel OASIS) Lung Bata - Kota Banda Aceh. Datang ya, kangkawan! :)

Posting Komentar