Kewajiban Istri serta Perubahan setelah Menikah



Alhamdulillah, setelah beberapa bulan dipersunting oleh seorang pemuda, akhirnya saya berani menulis tentang sesuatu yang bertemakan pernikahan. Ini hanya catatan singkat berupa kesan saya setelah menyandang status sebagai istri dari seorang yang saya terima pinangannya, akhir tahun 2016 silam. Well, harus saya akui saya menyesal dengan pernikahan ini. Lho, kok menyesal? Pasti sahabat sekalian terkejut, bahwa tidak menyangka saya akan berbicara demikian. Penyesalan bukan dalam konotasi negatif, melainkan sebaliknya. Saya menyesal, kenapa baru berani menikah di usia 28 tahun. Saya tidak menyangka bahwa pernikahan benar-benar se-sakinah-mawaddah ini.

Jodoh adalah ketetapan Allah yang merupakan rahasia. Kita akan tahu dengan siapa berjodoh bila telah melangsungkan ijab-qabul dengannya. Pernah, suatu kala, saat berbincang-bincang ringan dengan suami, saya utarakan ke beliau, "Cutbang, kok telat kali cari tahu keberadaan Adek, sih! Maunya kan kita jumpa beberapa tahun sebelum ini." Saya bilang begitu, sambil tersenyum, tertunduk malu. 

Beliau menjawab, "Sudah lama Cutbang cari, tapi Allah pertemukan pada saat yang tepat." Wajahnya berhiaskan senyum yang membuat saya jatuh cinta, lagi dan lagi.

Bisa jadi, salah satu alasan Allah menunda perjumpaan kita dengan calon pasangan hidup kita adalah terganjal dengan kesiapan kita sendiri. Kita belum siap, maka Allah tunda sejenak. Adapun bekalan-bekalan pernikahan itu tidak hanya mahar dan seserahan yang merupakan pemberian yang berstatus formal. Ada banyak persiapan lainnya yang harus benar-benar mumpuni bagi dua mempelai, yakni pemahaman terhadap hak dan kewajiban.

Saya menyadari, sangat beruntung pernah mengenyam pendidikan di dayah. Setiap kali terbentur dengan hal yang menuntut pertimbangan syara', saya kembali mengingat 'surah' (penjelasan) dari guru saya tentang hal itu, saat di balai pengajian. Selain itu, saya juga dapat membuka kembali lembaran-lembaran kitab yang pernah dibaca, atau bertanya kepada sesama teman yang dulunya pernah duduk berdampingan, saat belajar. 

Kita menyadari bahwa ketaatan istri setelah kepada Allah, yakni kepada suaminya, maka sudah semestinya saya mengabarkan setiap tindak-tanduk kesibukan saya kepada beliau. Persetujuan suami adalah syarat utama bila saya ingin memutuskan untuk berbuat sesuatu. Misalnya saat hendak pergi ke suatu tempat. Syukurlah, sejak awal beliau sudah menyatakan memberi izin bila saya hendak keluar rumah dengan alasan yang tidak bertentangan dengan syara' serta untuk memeroleh kebutuhan hidup, seperti berbelanja ke pasar, pergi ke kantor, ke apotik atau klinik, bersilaturrahmi kepada saudara dan teman-teman.

Beruntungnya lagi, bila beliau tidak menyenangi sesuatu, beliau tidak lekas marah, melainkan sekadar menunjukan perubahan sikap. Misal, dari tersenyum menjadi murung, atau dari berbicara menjadi diam. InsyaAllah saya peka dengan perubahan itu. Sesekali, saat beliau diam saja, entah karena lelah atau lainnya, sedangkan saya tidak menyadari telah berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan, saya tidak sungkan untuk bertanya, "Adek ada buat salah hari ini, Cutbang?" Beliau tersenyum dan menggeleng kepala. Saya rasa ini penting, untuk menjaga sakinah-mawaddah.

Salah satu hal yang tidak disenangi oleh beliau adalah jika perempuannya 'kelayapan' di warung kopi, tanpa alasan yang urgen. Maka, sejak menikah saya sudah memutuskan untuk mengurangi bahkan menghindari hal itu. Tanpa merasa terbebani sedikit pun, malah saya ridha. Kita tahu bahwa budaya ngopi bagi perempuan kini sudah tak lagi menjadi hal yang tabu. Tapi, Sebab pernikahan adalah ibadah terlama yang harus kita jalankan, sudah semestinya saya menempatkan diri pada posisi yang dikendaki oleh seorang yang di bawah kakinya terdapat surga. :)


Posting Komentar