Owner Operator

Senyum! Dilarang baca postingan ini sambil cemberut. 

Pemilik nama Aini Aziz, lahir di Aceh Besar pada 25 Agustus 1988. Tumbuh besar di keluarga sederhana yang dikepalai oleh Bapak Abdul Aziz bin Zamzami dan Ibu Kasmi binti Usman sebagai suri rumah tangganya. Dua orang yang tak kenyang karena mengenyangkan saya. Dua orang yang tak lelap tidur karena melenakan tidur saya. Orang tua yang menjadi insiprasi terbesar untuk saya. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya bagi kedua manusia terhebat di dunia ini, perspektif saya, tentunya. 

Paragraf pertama tentang orang tua. Saya rasa itu penting, sebab dari mereka lah saya bermula. Baik, sekarang, mari kita berkenalan. Saya Nuraini, S.TP. Namun, nama itu hanya akan sahabat temui di ijazah. Selebihnya saya dikenal sebagai Aini Aziz Beumeutuwah. Kenapa saya tidak menggunakan Nuraini sebagai nama pena? Alasannya, karena Nuraini terlalu jamak. Banyak sekali yang bernama Nuraini di dunia ini. Saya menghindari kesan pasaran, maka memilih nama lain yang direstui Ibu, tentunya. Jadilah Aini Aziz Beumeutuwah sebagai nama pena saya sejak 2009. 

Aini dari penggalan nama saya. Aziz, penggalan nama (Allah yarham) Bapak saya. Beumeutuwah (semoga bertuah) merupakan doa Bapak untuk saya yang selalu dilafazkan saat terakhir menjelang ajalnya. Tapi, dari itu semua, apalah arti nama jika tidak melakukan apa-apa. Saat kita tak ada, kita akan dilupakan. Nama kita akan tenggelam bersama dengan dibenamkan jasad. Namun ada satu hal yang membuat kita abadi, yakni meninggalkan jejak. Saya berpikir bahwa cara meninggalkan jejak paling efektif yakni dengan menulis. 

Dapat dibayangkan, seorang ilmuan yang telah lama meninggal dunia, masih kita kenal hingga sekarang, dari karya tulis dan ensiklopedinya. Pengarang kitab bahkan tidak teridentifikasi wajahnya, tapi nama mereka lekat di ingatan penimba ilmu. Begitulah gambaran sederhana, bahwa umur seseorang disambung oleh karya tulisnya. Saya pun menggeluti dunia literasi. 

Kecenderungan untuk menulis sudah ada sejak sekolah menegangah pertama. Hal ini menjadikan saya percaya diri bahwa saya mampu menjadi penulis. Berawal dari sajak-sajak yang saya tuliskan pada lembaran kertas. Satu, dua hingga banyak. Saya mengumpulkannya menjadi sebuah buku usang. Saya simpan hingga sekarang. 

Setelah itu, di 2009 saya mulai memiliki akun fabebook. Di sana lebih leluasa untuk mengasah kemampuan. Tulis, publis. Goresan ide kita langsung mendapat respon dari pembaca. Lambat laun saya terbiasa menulis. Hingga dipengujung 2011 saya meminta Keumala Fadhila (sahabat saya) untuk mengajarkan saya cara membuatkan blog. Syukurlah, hari itu langsung jadi. tasbihaini.blogspot.com lahir di antara harap-harap cemas; “kelak akan saya tulis apa, ya?” Begitulah kira-kira. 

Tidak puas hanya dengan memiliki blog, awal 2014 saya bergabung dengan lembaga kepenulisan terkemuka di Aceh, yakni Forum Lingkar Pena Aceh. Di sana saya menempa diri. Memperbaiki kemampuan menulis saya, hingga kini. 

Berikut sederetan giat saya dalam kepenulisan.

1. Juara II, Surat Cinta untuk FLP, Mubes FLP Aceh 2014 

2. Juara favorit di Give Away Ija Kroeng

3. Gost Writer di Warta Unsyiah (2015)

4. Kontributor di Hello Aceh (2015 - sekarang)

5. What You Think, You Become, Kolom stimulus di Majalah Warta Unsyiah 

6. Mengenal Karakter Bangsa Aceh, di Suara Darussalam

7. Urgensitas Orang Tua Sadar Pendidikan, di Warta Kota Banda Aceh.

Sudahlah, tidak usah saya tulis banyak sekali.  Setidaknya, itu sudah mewakili.

Selain itu, hingga saat tulisan ini dipublish, saya masih seperti yang dulu; gemar berorganisasi. Berikut sederetan organisasi yang saya libatkan diri di dalamnya. 

1. FLP Banda Aceh, Kadiv. Humas (2014-2016) 

2. FLP Aceh, Kadiv. Kaderisasi (2016-2018) 

3. Gaminong Blogger, Bendahara (2016 – 2017) 

4. Bakomubin Aceh Besar, Kadiv. Keputrian (2016 – sekarang) 

5. Gerakan Pesona Indonesia (GenPi) Aceh, Anggota Divisi Program  (2017-2018) 

6. Ketua Wanita Perti Aceh Besar (2016 – sekarang) 

Sudah cukup, tidak usah disebut semua. Itu saja dulu, sekedar perkenalan awal. Oia, sebagai alumnus Teknik Pertanian, saya akui sedikit sekali prospek kerja untuk jurusan ini. Namun demikian, segala puji dari Tuhan saya tidak dibiarkan menjadi pengangguran. Sejak lulus kuliah di 2011, saya langsung diterima kerja di salah satu distributor semen di Kota Banda Aceh. Sebagai staf administrasi dan penanggung jawab keuangan.

Setelah satu setengah tahun di sana, saya memutuskan untuk resign. Dengan satu dan dua alasan yang tidak perlu saya utarakan. Selepas itu, saya dilamar kerja oleh perusahaan advertising terkemuka di Banda Aceh. Terhitung November 2013 hingga sekarang, saya bekerja sebagai staf administrasi di CV. Media Mandiri. Alhamdulillah, cukup nyaman dan menyenangkan.

Saya rasa sejauh ini sudah memadai. Sekali lagi, ini hanya perkenalan. Baru satu bagian dari diri saya yang saya sampaikan. Selebihnya biarlah rahasia. Hingga sahabat menjadi dekat dengan saya, di situlah baru mengetahui segalanya. Satu hal, jangan tanya tentang saya pada sahabat saya. Mereka akan menyampaikan sisi baik dan menyembunyikan keburukan. Sebaliknya, jangan pula tanya tentang saya pada musuh saya. Mereka akan mengatakan keburukan dan menyembunyikan kebaikan. Tanya lah pada saya. Saat kita telah bersahabat.


       Salam Pena

Aini Aziz Beumeutuwah

1 komentar:

Semoga sabee beu meutuwah. Amiiiin

Reply

Posting Komentar