Surga Tujuh, Neraka Delapan?
![]() |
Deskripsi kedudukan surga dan neraka (Take from gugel) |
Muhammad sudah mulai suntuk. Tidak ada game yang
menyenangkan. Dia mengembalikan
gadget yang kupinjamkan. "hana game yang hayeu (tidak ada permainan yang seru)" katanya dengan wajah
lesu, mata menyipit.
"Panggil kak
Sunny. Kita main game yang lebih seru, sekarang!" kataku penuh semangat.
Dia bergegas
memanggil kakaknya yang sedang sibuk merangkai-rangkai bunga kecil di depan
rumah Mak Ti. Jelasnya itu bukan bunga seroja untuk dikenakan di sanggul. Sunny
seorang gadis kecil nan jelita yang berkerudung senantiasa.
Mereka berdua
adalah keponakanku (anggap saja begitu) yang cerdas. Sering memenangkan lomba
pidato di TPA-nya dan juga juara kelas di sekolah. Kuminta mereka duduk di hadapanku.
Setiap mereka mengeluh bosan, aku selalu melakukan cara ini. Mempan, mereka
kembali senang. Jangan bayangkan bahwa ini game sut atau game
gerakan tangan untuk mengasah otak. Tidak. Aku hanya menanyakan beberapa
pertanyaan. Ini seperti acara cerdas cermat, siapa yang banyak menjawab dan
benar maka point-nya akan bertambah. Tapi, aku tidak pernah memberi
mereka hadiah. Aku tidak pelit, hanya saja hemat ( keduanya sama tapi beda. Akuilah! )
Persaingan berimbang. Setiap pertanyaan terjawab benar. Tentang keluarga rasul. Rukun iman. Rukun islam. Tentang rukun shalat dan yang membatalkannya, mereka tahu semua itu meski umurnya masih dibawah sepuluh tahun. Padahal, aku ingat ada teman seusiaku yang bahkan tidak tahu. Ah, mungkin bukan tidak tahu, tapi tidak paham. Sebab orang yang paham tentu tidak akan meninggalkan shalat. Begitulah.
Persaingan berimbang. Setiap pertanyaan terjawab benar. Tentang keluarga rasul. Rukun iman. Rukun islam. Tentang rukun shalat dan yang membatalkannya, mereka tahu semua itu meski umurnya masih dibawah sepuluh tahun. Padahal, aku ingat ada teman seusiaku yang bahkan tidak tahu. Ah, mungkin bukan tidak tahu, tapi tidak paham. Sebab orang yang paham tentu tidak akan meninggalkan shalat. Begitulah.
Kembali ke tema. Aku kehabisan stok soal. Akhirnya kutanya saja hal yang ringan.
”Berapa jumlah surga dan neraka?”
Sunny mengacungkan tangan. Eh, ternyata sekalian dengan Muhammad. Aku bingung, siapa yang berhak menjawab, pikirku ada baiknya adil saja; kupersilahkan keduanya menjawab bersamaan, jika sama-sama benar maka masing-masing kuberi tambahan point.
”Surga tujuh, neraka delapan.” (Jawab Muhammad)
”Surga delapan,
neraka tujuh.” (Jawab Sunny)
”Nah lho, siapa
yang benar ini?” Kataku sambil menyorot mata mereka satu persatu. Mereka
saling menuding, mengklaim dirinya benar
dan lawannya yang salah. Lumrah, jangankan anak-anak, orang-orang yang sudah
dewasa bahkan Ormas islam sekalipun sering begitu. Merasa dirinya yang paling
benar.
“Baiklah, beri alasan jawaban kalian masing-masing” Kataku melerai.
Sunny berujar ”Ustaz bilang begitu, Kak!” Kurasa pembelaan ini tidak begitu memuaskan, meski harus kuakui bahwa jawabannyalah yang benar. Aku berharap setiap orang tidak serta merta mengakui sesuatu itu benar karena disampaikan oleh ustadz nya, tapi juga harus tahu dalil, alasan dan keterangan yang menguatkan pernyataan benar itu, agar terhindar dari taqlid buta.
Kualihkan pandangan.
”Muhammad, apa alasan adek bilang surga tujuh, neraka delapan?”
Muhammad menarik
napas dalam-dalam kemudian menghembusnya pelan, berdiri dari posisi duduknya
dan bergaya santai.
”Coba kakak amati dalam keseharian. Lebih banyak mana; waktu digunakan untuk beribadah dengan disia-siakan. Lebih banyak mana; orang yang paham agama dengan yang tidak paham. Lebih sering mana; ibadah atau maksiat. Orang jahat itu banyak sedangkan orang baik sedikit. Benar kan?” Dia begitu bersemangat dalam menjelaskan.
”Coba kakak amati dalam keseharian. Lebih banyak mana; waktu digunakan untuk beribadah dengan disia-siakan. Lebih banyak mana; orang yang paham agama dengan yang tidak paham. Lebih sering mana; ibadah atau maksiat. Orang jahat itu banyak sedangkan orang baik sedikit. Benar kan?” Dia begitu bersemangat dalam menjelaskan.
Spontan aku
tertawa lepas. Dia memberi pembelaan yang sangat rinci dan optimis. Tapi, sayang
sekali alasannya logis untuk jawabannya yang salah.
Sudah cukup dulu
ceritaku hari ini, ya!
Kalau ada yang
menjanggal tanyakan saja. Nanti kujawab, setelah selesai shalat Jum’at.
0 Response to "Surga Tujuh, Neraka Delapan?"
Posting Komentar