UA-153487531-1 Diare dan Penanganannya - Aini Aziz

Diare dan Penanganannya

Ilustrasi


Diare adalah salah satu dari sekian banyak hal yang membuat kita tak nyaman. Jelas saja, yang namanya penyakit memang tidak ada yang menyenangkan, bukan? Lain halnya dengan beberapa sakit ringan seperti pilek, demam, dan batuk, saya justru lebih khawatir jika tiba-tiba terkena diare.

Bagaimana tidak? Diare bisa menyebabkan kita kehilangan banyak cairan. Tubuh manusia, delapan puluh persen terdiri dari cairan. Berkali-kali buang air besar dengan feses cair tentu saja menguras banyak cairan tubuh. Terjadi dehidrasi. Bila terkena diare tentu saja tubuh kita menjadi lemah, semakin lama bertambah-tambah. Ini sangat berbahaya jika tidak segera ditangani. Saya, Anda, dan kita semua patut waspada terhadap jangkitan diare.

Penyebab diare itu sendiri tentunya beragam. Ada yang terkena diare karena pola makan yang tidak bersih. Infeksi bakteri, parasit dan virus. Kita harus benar-benar cermat memilih makanan. Usahakan yang sehat dan halal. Sebagaimana anjuran agama; halalan – thayyiban (halal dan baik). Contohnya, meskipun halal, Cabai tentu tidak boleh dikonsumsi dalam jumlah yang banyak, itu tidak baik untuk percernaan.

Kebiasaan buruk seperti tidak mencuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum dan sesudah makan, sesudah ke toilet atau setelah memegang benda kotor penuh bakteri menjadi salah satu penyebab diare pula. Atau, seseorang mengkonsumsi makanan belum dimasak hingga matang sempurna, seperti santan, misalnya. Ini juga bisa menjadi pemicu diare.

Selain itu, penyebab diare bisa jadi karena faktor alergi makanan. Ada orang yang harus pantang makanan tertentu karena tidak cocok dengan lambungnya. Ada masalah dengan pencernaan sehingga intoleran terhadap laktosa dan fruktosa. Menjaga pola makan tentu saja lebih mudah dari menghadapi diare yang bisa saja mendatangkan bahaya bagi kita, bukan?

Oia, jika terkena diare, kita harus gerak cepat untuk penangannya, agar tidak berlarut-larut. Biasanya, langkah dasar yang dilakukan oleh orangtua saya adalah memberi obatan herbal. Pertama disuguhkan air hangat yang telah dilarutkan gula dan garam di dalamnya, dengan takaran tertentu. Konon, ini sama khasiatnya dengan Oralit, obat diare yang biasa diberikan oleh pihak Puskesmas. Selain itu, ada resep jitu lainnya. Ini patut dicoba juga oleh teman-teman pembaca sekalian.

Ambilkan beberapa (tiga atau hingga tujuh) lembar daun pucuk Jambu Biji, daun pucuk pohon Kuda-Kuda, Kunyit, Sawo yang masih muda dan bergetah, kemudian tumbuk hingga halus. Tambahkan sedikit air, kemudian saring untuk memisahkan ampas dengan ekstraknya. Tanpa tambahan perasa lainnya, minumlah sari dari dedaunan tersebut dengan dua kali teguk. Tidak usah terlalu banyak karena rasanya memang tidak enak.


Daun Jambu Biji


Bagi kami sekeluarga, biasanya cukup dengan sekali minum, diare sembuh, Alhamdulillah. Senang juga bisa mengurangi konsumsi obat-obatan medis. Kendalanya, ramuan ini hanya bisa diberikan untuk orang dewasa, saat baru terkena diare. Tidak boleh untuk balita, konon lagi bayi. Tentu saja lambung mereka belum bisa menerima cairan semacam ini.


Daun Kuda-kuda


Sedikit share pengalaman pribadi saya Ramadan tahun lalu. Saya waktu itu baru tiga bulan pascalahiran. Entah apa yang salah dengan makanan saya, tiba-tiba setelah makan sahur, perut saya mendadak mules. Seperti dililit-lilit. Saya terkena diare. Bolak-balik ke kamar mandi hingga tiga kali. Berhubung sedang berpuasa, saya memantapkan diri mau bertahan. Tidak ingin buka puasa. Nyatanya, hingga pukul sembilan pagi hari, saya sudah lima kali bolak-balik ke kamar  mandi. Diare semakin menjadi.

Waktu itu Ibu saya sampai geram karena saya enggan berbuka puasa untuk minum obat. Soalnya saya punya bayi yang harus disusui. Takut bayi saya juga terjangkit. Itu akan lebih berbahaya, tentunya. Akhirnya saya menyerah, berbuka puasa juga. Takut terjadi apa-apa dengan saya dan bayi. Saya minum ramuan seperti yang sudah saya sebutkan di atas, ternyata sudah tidak mempan. Karena sudah terlambat, harusnya itu diminum dari awal-awal diare. Akhirnya saya bergegas ke Bidan terdekat.

Saya diberi obat plus ceramah singkat dari Bu Bidan agar lebih hati-hati dengan makanan dan kebersihan. Sebab tidak hanya berbahaya bagi saya, tapi juga terhadap bayi saya. Syukurlah setelah mengkonsumsi obat tersebut kondisi saya berangsur membaik. Diare pun sembuh.  Alhamdulillah pada bayi pun tidak tertular. Saya benar-benar takut sekali waktu itu. Merasa bersalah karena tidak lekas buka puasa dari awal agar bisa minum obat. Semoga hal semaca ini tidak akan pernah terulang lagi. Aamiin..

1 Response to "Diare dan Penanganannya"

  1. wah aku baru tau ternyata bisa pakai daun jambu biji, makasih infonya kak :D

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel