UA-153487531-1 Toleransi Cerdas, Mengindahkan Akidah. - Aini Aziz

Toleransi Cerdas, Mengindahkan Akidah.

(gambar dari hipwe)

Berbicara mengenai toleransi, kita pahami bersama bahwa toleransi itu sendiri berasal dari kata ‘tolerare” -dalam bahasa latin- yang artinya sabar dan menahan diri. Dalam interaksi sosial, toleransi dimaknai sikap menghargai dan menghormati perbedaan dengan tidak memaksakan kebenaran yang kita yakini kepada satu sama lain. Ini tentunya menyangkut hubungan antar umat beragama.

Seribu empat ratus tahun silam, melalui Firman-Nya, Allah Subhananahu wa Ta’ala telah mewahyukan bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Ini adalah pernyataan yang mutlak bermakna bahwa Islam agama yang sangat toleran. Tidak ada yang dipaksa untuk memeluk Islam, melainkan seruan, ajakan, dan kebenaran dari Islam itu sendiri menjadikan seseorang tertarik untuk mengenyam nikmat Islam.

Tidak hanya itu, bahkan beberapa dalil lainnya juga menitikberatkan pada pernyataan bahwa Islam agama yang toleran. Sebut saja di antaranya, Surat Al Maidah ayat 48 yang artinya;

Kalau Allah Mengkehendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah Diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. “ 

Tentunya kita ingat tentang sebuah kebaikan yang diteladankan oleh Rasullullah. Ketika seorang Yahudi sakit, Rasulullah adalah orang pertama yang datang menjenguknya. Padahal Yahudi itu tak lain adalah seorang yang menunggu Rasulullah di sebuah gang untuk diludahi, setiap hari. Saat menyadari Si Yahudi itu tidak muncul, beliau langsung mencari tahu kabar Si Yahudi. Ketika mengetahui ia sedang sakit, Rasulullah lekas pulang ke rumah, mengambil makanan dan datang untuk menjenguk Si Yahudi. Inilah kesahihan, sebuah sikap yang toleran. Berbuat baik tanpa memandang agama.

Di sisi lain, Rasulullah pernah menerima sebuah hadiah yang diberikan oleh Muqauqis, Raja Mesir yang beragama Nasrani, berupa seorang perempuan cantik jelita untuk dinikahinya, yakni Mariya. Dari pernikahannya dengan Mariya, Rasulullah dikaruniai seorang putra bernama Ibrahim yang meninggal dunia ketika masih berusia delapan belas bulan. Bukankah ini bahagian dari sikap toleran? Bahwa kita dibenarkan memberi dan menerima hadiah, tanpa memandang agama. 

Islam mengajarkan kita untuk dapat berbuat baik, tidak hanya kepada sesama kaum muslimin, melainkan dengan umat agama lain. Sebagaimana dalam pernyataan-Nya dalam surat Al Maidah di atas, kita dituntut untuk dapat berbuat baik dengan tidak memandang agama. Namun demikian, toleransi itu sendiri tentu saja memiliki batasan.

Adapun ruang lingkup toleran yang dibenarkan oleh Islam, yakni kebaikan yang tidak berhubungan dengan nilai-nilai akidah. Saling berbagi hadiah, baik itu pakaian, makanan, dan apapun yang tetap mengindahkan nilai-nilai keyakinan agama masing-masing. Sedangkan untuk interaksi yang menyangkut akidah, dilarang keras bagi kaum muslimin untuk mengikutinya, konon lagi merayakannya. Ini semata-mata bertujuan untuk memurnikan keyakinan, menjauhi kita dari kemunafikan dan kemusyrikan.

Dewasa ini Islam kerap di-judge agama yang intoleran, hanya karena beberapa pemuka agama Islam tidak membenarkan ketika ada kaum muslimin mengikuti perayaan agama lain, sebut saja Natal, misalnya. Ketika ada pernyataan bahwa mengucapkan Selamat Natal kepada nonmuslim adalah haram, maka pernyataan itu dianggap sebentuk intoleran. Hal tersebut tentu saja keliru. Justru, inilah sikap yang sangat toleran. Sebagaimana kandungan surat Al Kafirun, 1-6.

Katakanlah; “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Rabb yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.”

Di sini jelas bahwa kemurnian akidah sangat diutamakan. Sebagai muslim, kita tidak dibenarkan terlibat dalam pelaksanaan ibadah agama lain. Demikian pula bagi mereka nonmuslim, kita tidak dibenarkan meminta mereka terlibat dalam ritual agama kita. Ketika kita hendak melaksanakan perayaan Idul Fitri, tak perlu memaksa sahabat Nasrani untuk ikut memeriahkannya. Demikian pula dengan perhelatan Natal mereka, kita tidak perlu menyibukkan diri untuk terlibat di dalamnya.

Sayangnya, pemahaman terhadap toleransi itu sendiri kini sudah jauh bergeser dari makna sebenarnya. Toleran dalam artian sebenarnya adalah kita tidak keberatan, dan menghargai peribadahan agama lain dengan tidak mengusiknya. Baik itu minoritas maupun mayoritas, semua diberikan keleluasaan untuk beribadah, berdasarkan aturan agamanya. Tanpa penindasan. Tidak dibolehkan mencela tuhan agama lain. Sedangkan yang dipahami saat ini, toleran itu adalah ikut berbaur dalam perbedaan tersebut. Jika kita enggan mengakui kebenaran keyakinan agama lain, kita dianggap intoleran.

Pergeseran makna inilah yang mengakibatkan masyarakat kita latah. Banyak di kalangan kaum muslimin sendiri yang keberatan ketika kita katakan tidak boleh memeriahkan ibadah agama lain. Kita mengakui bahwa Allah Tuhan yang MahaEsa, kemudian kita terlibat dalam perayaan hari kelahiran tuhan mereka, bukankah itu sebentuk kemunafikan? Bahkan mendekatkan kita pada kemusyrikan. Bagaimana tidak. Bukankah keyakinan kita akhirnya samar-samar? Semestinya kita dapat kembali ke pada Surat Al Kafirun; “lakum di-nukum wali-yadin” (bagimu agamamu dan bagiku agamaku).

***

(Tulisan ini telah dipublis pada tabloid Warta Unsyiah, edisi Oktober 2019)

0 Response to "Toleransi Cerdas, Mengindahkan Akidah."

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel